Cara Analisis Butir Soal: Tingkat Kesukaran, Daya Beda, dan Contoh Hitungnya
Analisis butir soal berarti memeriksa setiap soal sesudah ujian memakai data jawaban murid. Tingkat kesukaran p adalah jumlah murid yang menjawab benar dibagi jumlah peserta. Daya beda D adalah proporsi benar kelompok atas 27 persen dikurangi proporsi benar kelompok bawah 27 persen. Ditambah sebaran jawaban pada pengecoh, angka-angka ini menunjukkan soal mana yang layak disimpan, direvisi, atau dibuang.
Apa itu analisis butir soal dan kenapa perlu dilakukan?
Nilai ulangan hanya sebaik soalnya. Satu kunci yang tertukar atau satu kalimat soal yang bisa dibaca dua arah akan menggeser nilai satu kelas tanpa ada yang sadar. Analisis butir soal memeriksanya dengan data dari lembar jawaban murid sendiri, bukan dengan firasat.
Pijakannya jelas. Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan memasukkan pengembangan instrumen dan pengolahan hasil ke dalam prosedur penilaian (Pasal 3), dan pengolahan itu dilakukan dengan menganalisis data secara kuantitatif dan/atau kualitatif (Pasal 7). Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 dari BSKAP Kemendikdasmen menulis bahwa asesmen yang objektif memakai instrumen yang sahih dan reliabel, dan pendidik menganalisis serta menindaklanjuti hasil asesmen.
Yang dibahas di sini adalah analisis butir klasik, yang bisa dihitung dengan kalkulator atau Excel dan paling pas untuk soal bernilai benar atau salah seperti pilihan ganda dan isian singkat.
Rumus tingkat kesukaran (p) dan cara membacanya
Tingkat kesukaran adalah proporsi murid yang menjawab benar: p = B / N, dengan B jumlah murid yang menjawab benar dan N jumlah peserta. Nilainya selalu antara 0 dan 1. Kalau 21 dari 30 murid menjawab benar, p = 21 / 30 = 0,70.
Namanya memang agak menipu: makin besar p, makin mudah soalnya. Buku panduan penjaminan mutu terbitan LPMP Provinsi Papua memakai batas yang lazim: p di bawah 0,30 sukar, 0,30 sampai 0,70 sedang, dan di atas 0,70 mudah.
Soal sedang bukan satu-satunya soal yang baik. Soal mudah berguna untuk konsep inti yang wajib dikuasai semua murid, dan satu dua soal sukar melatih murid berpikir lebih jauh. Yang patut dicurigai adalah p yang jauh dari perkiraan guru saat menulis soal.
Rumus daya beda (D) dengan kelompok atas dan bawah 27 persen
Daya beda menjawab pertanyaan yang lebih tajam: apakah murid yang secara keseluruhan menguasai materi memang lebih sering benar pada soal ini dibanding murid yang belum menguasainya? Langkahnya:
- Hitung skor total tiap murid, lalu urutkan dari yang tertinggi.
- Ambil 27 persen teratas sebagai kelompok atas dan 27 persen terbawah sebagai kelompok bawah. Untuk 30 murid, 0,27 x 30 = 8,1, dibulatkan menjadi 8 orang per kelompok. Empat belas murid di tengah tidak dipakai untuk menghitung D.
- Untuk setiap soal, hitung pA (jumlah benar di kelompok atas dibagi 8) dan pB (jumlah benar di kelompok bawah dibagi 8).
- Hitung D = pA - pB. Nilainya berkisar dari -1 sampai 1.
Kenapa 27 persen? Materi evaluasi pendidikan dari Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana Undiksha menjelaskan bahwa kelompok atas dan bawah umumnya diambil 10 sampai 33 persen. Angka 27 persen dipakai bila skor total menyebar normal; bila sebarannya lebih landai, persentasenya diperbesar mendekati 33 persen.
Untuk menafsirkan D, sumber yang sama mengutip batas dari Ebel yang dipakai tabel di bawah. Buku LPMP Papua memakai batas lebih ringkas: D di atas 0,25 diterima, di atas 0 sampai 0,25 diperbaiki, 0 atau kurang ditolak. Angkanya berbeda sedikit, tetapi keduanya sepakat bahwa D negatif selalu tanda bahaya.
| Ukuran | Rentang | Kategori | Tindak lanjut awal |
|---|---|---|---|
| p | di atas 0,70 | Mudah | Cocok untuk konsep inti; cek pengecoh bila hampir semua benar |
| p | 0,30 sampai 0,70 | Sedang | Pertahankan bila D baik |
| p | di bawah 0,30 | Sukar | Cek kunci, materi, dan bahasa soal |
| D | 0,40 ke atas | Sangat baik | Simpan di bank soal |
| D | 0,30 sampai di bawah 0,40 | Cukup, perlu sedikit perbaikan | Simpan, rapikan pengecoh |
| D | 0,20 sampai di bawah 0,30 | Kurang | Revisi |
| D | 0 sampai di bawah 0,20 | Jelek | Tulis ulang atau buang |
| D | negatif | Bermasalah | Periksa kunci lebih dulu |
Contoh hitung analisis butir soal: 10 soal, 30 murid
Bu Sari, guru IPA kelas VIII, memberi ulangan 10 soal pilihan ganda empat opsi kepada 30 murid. Setelah skor total diurutkan, 8 murid teratas menjadi kelompok atas dan 8 murid terbawah menjadi kelompok bawah.
| Soal | Benar (dari 30) | p | Benar kelompok atas (dari 8) | Benar kelompok bawah (dari 8) | D | Tafsir |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 27 | 0,90 | 8 | 6 | 0,25 | Mudah, daya beda kurang |
| 2 | 20 | 0,67 | 8 | 3 | 0,63 | Sedang, sangat baik |
| 3 | 15 | 0,50 | 6 | 2 | 0,50 | Sedang, sangat baik |
| 4 | 6 | 0,20 | 2 | 1 | 0,13 | Sukar, jelek |
| 5 | 18 | 0,60 | 6 | 4 | 0,25 | Sedang, kurang |
| 6 | 12 | 0,40 | 2 | 5 | -0,38 | Sedang, negatif |
| 7 | 29 | 0,97 | 8 | 7 | 0,13 | Mudah sekali, jelek |
| 8 | 16 | 0,53 | 7 | 2 | 0,63 | Sedang, sangat baik |
| 9 | 10 | 0,33 | 5 | 1 | 0,50 | Sedang, sangat baik |
| 10 | 14 | 0,47 | 6 | 3 | 0,38 | Sedang, cukup |
Soal 2 dihitung begini: p = 20 / 30 = 0,67; pA = 8 / 8 = 1; pB = 3 / 8 = 0,375; D = 1 dikurangi 0,375 = 0,63. Soal 2, 3, 8, dan 9 layak masuk bank soal. Soal 9 istimewa: hanya sepertiga kelas yang benar, tetapi separuhnya dari kelompok atas dan hanya satu dari kelompok bawah.
Soal 1 dan 7 terlalu mudah, jadi kedua kelompok sama-sama benar. Soalnya tidak salah, hanya tidak membedakan. Soal 4 hanya dijawab benar oleh 6 murid, 2 di antaranya dari kelompok atas; pola ini sering berarti murid menebak karena materinya belum tuntas atau kalimat soalnya membingungkan.
Soal 6 paling mengkhawatirkan: pA = 2 / 8 = 0,25 dan pB = 5 / 8 = 0,625, jadi D = -0,38. Murid yang paling menguasai materi justru lebih sering salah, dan penyebab tersering adalah kunci tertukar atau ada opsi lain yang juga benar. Rata-rata p kesepuluh soal 0,56, jadi ulangan ini secara keseluruhan tergolong sedang.
Analisis pengecoh pada soal pilihan ganda
Pengecoh atau distraktor adalah opsi yang salah. Materi Undiksha tadi memakai batas: pengecoh baik bila dipilih paling sedikit 5 persen peserta, yang untuk 30 murid berarti minimal 2 orang. Buku LPMP Papua menambahkan arahnya: daya beda kunci positif dan daya beda pengecoh negatif, artinya pengecoh lebih banyak dipilih kelompok bawah.
| Soal | Opsi | Kelompok atas (8) | Kelompok bawah (8) | Seluruh kelas (30) | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| 6 (kunci B) | A | 0 | 2 | 3 | Berfungsi |
| B (kunci) | 2 | 5 | 12 | Lebih banyak dipilih kelompok bawah | |
| C | 6 | 1 | 14 | Dipilih 6 dari 8 murid terpandai: curigai C juga benar | |
| D | 0 | 0 | 1 | Tidak berfungsi, hanya 3 persen | |
| 10 (kunci D) | A | 0 | 1 | 1 | Tidak berfungsi, perlu diganti |
| B | 1 | 2 | 7 | Berfungsi | |
| C | 1 | 2 | 8 | Berfungsi | |
| D (kunci) | 6 | 3 | 14 | Normal |
Pada soal 6, opsi C dipilih 6 dari 8 murid kelompok atas. Ketika Bu Sari membuka ulang soalnya, pertanyaannya berbunyi "Zat yang dihasilkan tumbuhan dalam fotosintesis adalah ...", dengan kunci B oksigen dan opsi C glukosa. Keduanya benar. Untuk ulangan ini, jawaban B dan C sama-sama diberi skor lalu nilai dihitung ulang. Untuk bank soal, pertanyaannya diubah menjadi "Gas yang dilepaskan tumbuhan dalam fotosintesis adalah ...", dan opsi D diganti.
Pada soal 10, opsi A juga hanya dipilih satu murid karena terlalu jelas salahnya. Gantilah dengan jawaban keliru yang sering muncul di buku tulis murid; miskonsepsi nyata adalah bahan pengecoh yang paling hidup.
Butir jelek: revisi, buang, atau simpan di bank soal?
Modul Guru Pembelajar Matematika SMP kelompok kompetensi H dari PPPPTK Matematika, Ditjen GTK Kemendikbud meringkas hasil akhirnya dengan lugas: sebagian butir sudah baik dan tidak perlu direvisi, sebagian perlu direvisi, dan sebagian mungkin harus dibuang. Pegangan praktisnya:
- Simpan soal dengan D 0,30 ke atas, dan catat tingkat kesukarannya di bank soal berdasarkan p hasil ujian, bukan perkiraan saat menulis.
- Revisi soal dengan D 0,20 sampai di bawah 0,30 atau yang pengecohnya tidak berfungsi. Sering kali cukup mengganti satu opsi.
- Tulis ulang atau buang soal dengan D negatif setelah kunci dipastikan benar, juga soal dengan D mendekati nol padahal materinya sudah diajarkan.
- Jangan memvonis dari satu kelas kecil. Dengan kelompok 8 orang, satu murid menggeser D sebesar 0,125, jadi gabungkan dulu data kelas paralel.
- Soal dengan D baik tetapi p rendah biasanya bukan soal jelek; itu tanda materi belum tuntas dan murid perlu remedial.
Bila kunci terbukti salah, perbaiki nilai semua murid pada ujian itu. Murid tidak boleh menanggung kesalahan soal.
Template analisis butir soal di Excel
Tata letak ini bisa langsung diketik di lembar kerja kosong untuk 30 murid dan 10 soal pilihan ganda. Excel bersetelan Indonesia memakai titik koma sebagai pemisah argumen; pada setelan Inggris, ganti dengan koma.
- A1 diisi Nama, B1 sampai K1 diisi S1 sampai S10. A2 diisi Kunci, B2 sampai K2 diisi huruf kunci.
- Baris 3 sampai 32: nama murid di kolom A, huruf pilihannya di kolom B sampai K.
- Di N3 ketik =IF(B3=B$2;1;0), salin sampai W32. Di X3 ketik =SUM(N3:W3), salin sampai X32.
- Blok A3 sampai X32, urutkan berdasarkan kolom X dari terbesar.
- Di N34 ketik =AVERAGE(N3:N32) untuk p. Karena skornya 1 dan 0, rata-ratanya sama dengan proporsi benar.
- Di N35 ketik =AVERAGE(N3:N10) untuk 8 murid teratas, di N36 ketik =AVERAGE(N25:N32) untuk 8 murid terbawah, di N37 ketik =N35-N36 untuk D. Salin N34 sampai N37 ke kanan sampai kolom W.
- Di B34 ketik =COUNTIF(B3:B32;"A"), ulangi dengan "B", "C", dan "D" di baris 35 sampai 37, salin sampai kolom K. Opsi salah yang dipilih kurang dari 2 murid perlu diganti.
Untuk jumlah murid lain, ukuran kelompok = 27 persen dari jumlah murid, dibulatkan, lalu sesuaikan rentang baris di langkah 6.
Analisis butir otomatis di CBT SiTuntas
Bila ulangan dijalankan lewat modul CBT, hitungan di atas tidak perlu dibuat tangan. Halaman Analisis Butir di menu Nilai & Koreksi menghitung per sesi ujian: tingkat kesukaran p (0,70 ke atas mudah, 0,30 sampai di bawah 0,70 sedang, di bawah 0,30 sukar), daya beda dengan metode 27 persen kelompok atas dan bawah, sebaran pilihan tiap opsi soal pilihan ganda untuk membaca pengecoh, serta ketuntasan per Tujuan Pembelajaran untuk soal yang ditautkan ke TP. Label daya bedanya: perlu ditinjau untuk D negatif, lalu jelek, cukup, baik, dan sangat baik dengan batas 0,2, 0,3, dan 0,4. Soal uraian dikecualikan karena dinilai manual.
Hasil analisis satu sesi bisa diterapkan ke bank soal: label kesukaran soal diperbarui bila pesertanya minimal 5 orang, dan tanda perlu revisi muncul bila pesertanya minimal 10 orang dan daya bedanya jelek atau negatif. Angka-angka ini alat bantu, bukan vonis; menulis ulang soal dan memilih butir yang dibuang tetap pekerjaan guru. Modul CBT termasuk paket Premium; rinciannya ada di halaman aplikasi CBT sekolah. Panduan menyiapkan ujian pertama ada di artikel cara membuat ujian CBT online di sekolah, dan contoh menyusun pengecoh dari stimulus ada di contoh soal AKM literasi dan numerasi.
Pertanyaan yang sering diajukan
Berapa jumlah murid minimal agar analisis butir soal bisa dipercaya?
Tidak ada satu angka yang disepakati semua buku, tetapi makin sedikit murid, makin besar pengaruh satu orang. Dengan 30 murid, kelompok atas dan bawah masing-masing hanya 8 orang, sehingga satu murid yang berubah jawaban menggeser D sebesar 0,125. Gabungkan data kelas paralel yang mengerjakan soal yang sama sebelum membuang sebuah butir.
Bagaimana analisis butir untuk soal uraian?
Rumus p = B dibagi N dan daya beda kelompok 27 persen dirancang untuk soal yang skornya benar atau salah. Untuk uraian berskor bertingkat, langkah paling sederhana adalah membandingkan rata-rata skor kelompok atas dan bawah pada butir itu; bila hampir sama, rubrik atau kalimat soalnya perlu ditinjau.
Apakah soal yang dijawab benar oleh semua murid harus dibuang?
Tidak harus. Soal seperti itu memang tidak membedakan murid, tetapi bisa menjadi bukti bahwa konsep dasarnya sudah dikuasai seluruh kelas. Pertahankan bila soal itu mengukur tujuan pembelajaran yang wajib, asal tidak diandalkan untuk memetakan siapa yang perlu bantuan.
Apa bedanya soal jelek dengan materi yang belum dikuasai murid?
Lihat daya bedanya. Bila p rendah tetapi D tetap baik, kelompok atas menjawab benar dan kelompok bawah tidak, jadi soalnya bekerja dan yang perlu ditindaklanjuti adalah pembelajarannya. Bila p rendah dan D mendekati nol atau negatif, kelompok atas pun gagal, sehingga kalimat soal, kunci, atau urutan materinya yang perlu diperiksa.
Apakah CBT SiTuntas membuang soal yang daya bedanya jelek secara otomatis?
Tidak. Saat hasil analisis satu sesi diterapkan ke bank soal, butir dengan daya beda jelek atau negatif dari minimal 10 peserta hanya diberi tanda perlu revisi. Guru yang memutuskan apakah soal itu diperbaiki, diganti pengecohnya, atau tidak dipakai lagi.
Referensi
- Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan, JDIH BPK RI
- Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025, BSKAP Kemendikdasmen (Repositori Kemendikdasmen)
- Pemenuhan Mutu Standar Penilaian: Buku 2D Panduan SPMI, LPMP Provinsi Papua 2020 (Repositori Kemendikdasmen)
- Modul Guru Pembelajar Matematika SMP Kelompok Kompetensi H: Penilaian, PPPPTK Matematika Ditjen GTK 2016 (Repositori Kemendikdasmen)
- Taraf Kesukaran, Daya Beda, dan Efektivitas Pengecoh, Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Pascasarjana Undiksha
Baca juga
- Cara Membuat Ujian CBT Online di Sekolah, Langkah demi Langkah
- Aplikasi CBT Gratis vs Berbayar: Pertimbangan untuk Sekolah
- Contoh Soal AKM Literasi dan Numerasi untuk Ujian Sekolah + Cara Membuatnya
- Persiapan TKA dan AN SMA/SMK 2026: Jadwal, Simulasi, dan Checklist Proktor
- Cara Analisis Butir Soal: Tingkat Kesukaran, Daya Beda, dan Contoh Hitungnya
Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?
SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Semua modul terbuka, tanpa instalasi.
Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin
Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp