e-Jurnal

Cara Menyusun ATP Kurikulum Merdeka: Langkah dan Contohnya

Sampul artikel: Cara Menyusun ATP Kurikulum Merdeka: Langkah dan Contohnya

Setiap awal tahun ajaran ada satu dokumen yang membuat rapat MGMP memanjang: Alur Tujuan Pembelajaran. Sebagian guru menyalinnya dari internet, sebagian menyusun sendiri sampai puluhan halaman, dan hasilnya sama-sama jarang dibuka lagi setelah dicetak. Padahal begitu logikanya dipahami, menyusun ATP bisa selesai rapi dalam beberapa pertemuan. Tulisan ini membedah alurnya dari nol, lengkap dengan contoh nyata dan kesalahan yang paling sering muncul di lapangan.

CP, TP, dan ATP: tiga istilah yang sering tertukar

Sebelum menyusun, bereskan dulu istilahnya, karena di sekolah ketiganya kerap dipakai bergantian padahal maknanya berbeda.

Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi yang harus dicapai siswa di akhir fase. CP ditetapkan pemerintah, saat ini lewat Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 tanggal 16 Juli 2025 yang mencabut Keputusan Kepala BSKAP Nomor 032/H/KR/2024, jadi guru tinggal memakai dan tidak boleh mengarang sendiri. CP ditulis per elemen dalam paragraf panjang. Untuk SMP yang masuk Fase D, satu CP mencakup tiga tahun sekaligus, dari kelas VII sampai IX.

Tujuan Pembelajaran (TP) adalah pecahan kecil dari CP. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses mendefinisikannya sebagai kompetensi dan konten pada ruang lingkup materi yang harus dicapai murid (Pasal 6), dan Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 menegaskan setiap TP sebaiknya memuat dua komponen: kompetensi (kemampuan yang bisa ditunjukkan siswa) dan lingkup materi (konten inti yang dipelajari). Satu paragraf CP diurai menjadi belasan sampai puluhan tujuan yang spesifik dan terukur, misalnya "siswa dapat membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat". Merumuskan TP adalah pekerjaan guru.

Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) adalah TP-TP tadi yang sudah diurutkan dari awal sampai akhir fase. Kata kuncinya alur: mana yang diajarkan lebih dulu, mana yang belakangan, di kelas berapa, dan berapa JP. Panduan menyebutnya dengan tegas: ATP adalah tujuan pembelajaran yang diurutkan, bukan turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran. ATP adalah TP yang sama, disusun berbaris supaya bisa dijalankan runtut sepanjang fase.

Dasar yang perlu dipegang tahun ajaran ini

Banyak ATP yang beredar di internet masih mengutip keputusan CP 2024 atau bahkan 2022. Sebelum menyusun, pastikan rujukannya yang berlaku sekarang.

DokumenIsi pokok untuk penyusun ATPCatatan
Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025CP semua mata pelajaran PAUD sampai menengah, per fase dan per elemenDitetapkan 16 Juli 2025, mencabut Kepka BSKAP 032/H/KR/2024
Keputusan Kepala BKPDM No. 020 Tahun 2026Perubahan CP khusus mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti23 Juni 2026; CP mapel lain tetap mengikuti keputusan 2025
Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Standar Proses)Dokumen perencanaan cukup memuat TP, langkah pembelajaran, dan asesmen (Pasal 5); definisi TP (Pasal 6)Berlaku 5 Januari 2026, mencabut Permendikbudristek 16/2022
Panduan Pembelajaran dan Asesmen, edisi revisi 2025Dua komponen TP, cara-cara mengurutkan, tiga pilihan pengembangan ATPDiterbitkan BSKAP, yang sejak Perpres 6/2026 bernama BKPDM

Lima langkah menyusun ATP dari CP

  • 1. Baca CP per elemen dari sumber resmi. Pegang salinan Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025, bukan hasil salinan blog yang bisa saja versi lama. Matematika Fase D, misalnya, punya elemen Bilangan, Aljabar, Pengukuran, Geometri, serta Analisis Data dan Peluang.
  • 2. Urai kompetensi dan lingkup materinya. Tandai kata kerjanya (membandingkan, menyelesaikan, menganalisis) dan kontennya (bilangan bulat, persamaan linear). Satu pasang kata kerja dan konten biasanya menjadi satu calon TP.
  • 3. Rumuskan TP yang terukur. Tulis dengan pola singkat: siswa dapat, lalu kata kerja, lalu materi, ditambah konteks bila perlu. Hindari kata kerja kabur seperti "memahami" atau "mengetahui" yang tidak bisa dinilai.
  • 4. Urutkan secara logis. Prasyarat selalu di depan. Operasi bilangan bulat harus tuntas sebelum bentuk aljabar, karena aljabar memakai bilangan negatif terus-menerus. Alurnya bergerak dari konkret ke abstrak, dari sederhana ke kompleks.
  • 5. Distribusikan ke kelas dan beri alokasi JP. Bagi TP ke kelas VII, VIII, dan IX, lalu taksir JP tiap TP. Totalnya harus muat di alokasi jam mapel per tahun. Kalau jumlahnya meledak, kembali ke langkah 3 dan rampingkan.

Panduan juga mengingatkan bahwa ATP dikembangkan per fase lalu ditetapkan per tahun, dan sebaiknya disusun kolaboratif lintas kelas dalam satu fase, misalnya lewat MGMP sekolah. Guru kelas VII yang menyusun sendiri tanpa berbicara dengan guru kelas VIII biasanya menghasilkan alur yang terputus di tengah fase.

Enam cara mengurutkan TP menurut Panduan

Langkah keempat sering dianggap sekadar soal selera. Padahal Panduan Pembelajaran dan Asesmen menyediakan enam metode pengurutan yang bisa dipilih sesuai karakter materi, dan satu ATP boleh memadukan beberapa di antaranya.

MetodePrinsipContoh penerapan
Konkret ke abstrakMulai dari yang berwujud, baru aturan atau simbolnyaMengenal bangun ruang lewat benda nyata sebelum rumus volumenya
DeduktifDari konsep umum ke yang spesifikKonsep basis data dulu, baru jenis-jenisnya
Mudah ke sulitDari konten paling ringan ke paling beratMengeja kata pendek sebelum kata panjang
HierarkiKeterampilan komponen dulu, baru yang kompleksPenjumlahan tuntas sebelum perkalian
ProseduralMengikuti tahapan sebuah prosedurMenulis hipotesis, memilih uji, memeriksa asumsi, menjalankan uji
ScaffoldingBantuan besar di awal, dikurangi bertahapGuru memandu penuh saat mengapung, lalu murid berenang sendiri

Contoh potongan ATP Matematika Fase D

Begini wujud nyatanya untuk lima TP pertama kelas VII semester ganjil, ditulis berurutan lengkap dengan elemen dan taksiran JP-nya:

KodeElemenTujuan pembelajaranJP
7.1BilanganSiswa dapat membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat serta meletakkannya pada garis bilangan.5
7.2BilanganSiswa dapat melakukan operasi hitung bilangan bulat dan menerapkannya pada masalah sehari-hari.8
7.3BilanganSiswa dapat mengenal, membandingkan, dan mengoperasikan bilangan rasional dalam bentuk pecahan dan desimal.10
7.4AljabarSiswa dapat mengenali bentuk aljabar, menyederhanakannya, dan menghitung nilainya melalui substitusi.8
7.5AljabarSiswa dapat menyelesaikan persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel.10

Perhatikan urutannya: bilangan bulat dulu, baru bilangan rasional, baru masuk aljabar. Tiap TP satu kalimat, memuat kata kerja yang bisa dinilai, dan diberi taksiran JP. ATP lengkap Matematika Fase D umumnya berkisar 30 sampai 36 TP untuk tiga tahun.

Menakar alokasi JP supaya tidak meleset

Bagian yang paling sering diabaikan adalah soal waktu. ATP yang bagus di atas kertas bisa gagal dijalankan kalau total JP-nya melampaui jam yang tersedia. Cara mengeceknya sederhana: jumlahkan JP semua TP di satu kelas, lalu bandingkan dengan alokasi mapel per tahun. Misalnya Matematika mendapat 5 jam per minggu dan satu tahun efektif kira-kira 34 sampai 36 minggu, maka pagunya sekitar 170 sampai 180 JP. Sisakan ruang untuk asesmen, remedial, dan pekan yang terpotong kegiatan sekolah. Angka JP ini pula yang kelak dipakai untuk menyusun jadwal dan membagi jam mengajar guru, jadi ATP yang realistis membuat langkah berikutnya lebih ringan.

Kesalahan yang sering terjadi

  • ATP kegemukan. Ada sekolah yang ATP satu mapelnya lebih dari 60 TP karena tiap sub-bab dijadikan TP sendiri. Akibatnya tidak pernah selesai diajarkan. Kalau melewati 40 TP per fase, hampir pasti ada yang bisa digabung.
  • Tidak runtut. Persamaan linear muncul sebelum operasi bilangan bulat tuntas, atau statistika kelas VII menuntut konsep yang baru diajarkan di kelas VIII. Ini biasanya jejak salin-tempel dari berbagai sumber tanpa dibaca ulang.
  • Salin-tempel antar fase. TP Fase D yang ternyata bunyi persisnya diambil dari Fase E SMA, lengkap dengan materi yang belum waktunya. Asesor dan pengawas cukup jeli menangkap hal seperti ini.
  • TP tidak terukur. "Siswa memahami bilangan" tidak bisa dibuktikan tercapai atau tidak. Ganti dengan kata kerja yang hasilnya kelihatan, seperti menghitung, membandingkan, atau menyajikan.
  • Rujukan CP kedaluwarsa. ATP yang masih mencantumkan Kepka BSKAP 032/H/KR/2024 perlu dicek ulang terhadap keputusan 046/H/KR/2025, dan untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terhadap Kepka BKPDM 020 Tahun 2026.

ATP buatan sendiri atau contoh dari pemerintah?

Dua-duanya sah. Panduan Pembelajaran dan Asesmen secara terbuka memberi guru tiga pilihan: mengembangkan ATP sepenuhnya secara mandiri, mengembangkan ATP berdasarkan contoh yang disediakan pemerintah, atau memakai contoh yang tersedia sesuai kebutuhan belajar murid. Contoh resminya disediakan di platform Rumah Pendidikan, dan Panduan menegaskan bahwa contoh itu boleh diubah urutannya. Memakai contoh resmi tidak membuat guru malas; yang keliru adalah memakai ATP yang tidak pernah dibaca. Saran praktisnya, mulai dari contoh yang sudah teruji, lalu sesuaikan alokasi JP dan urutannya dengan kondisi sekolah. Energi MGMP lebih baik dihabiskan untuk modul ajar dan asesmen daripada mengetik ulang dokumen dari nol.

Setelah ATP jadi, ke mana perginya?

ATP adalah kerangka untuk menyusun modul ajar dan, pada akhirnya, untuk menjalankan pembelajaran harian. Banyak ATP berhenti sebagai arsip: sudah disusun rapi, tapi tidak pernah bersambung ke pekerjaan guru sehari-hari. Idealnya, TP yang sudah diurutkan itulah yang muncul kembali di jurnal mengajar setiap pertemuan, sehingga guru tahu persis sedang berada di titik mana dalam alurnya dan kepala sekolah bisa melihat materi mana yang tertinggal.

Di e-Jurnal SiTuntas tersedia Master ATP per mata pelajaran dan tingkat yang bisa diimpor dari bank kurikulum pusat atau diisi sekolah sendiri. TP-nya otomatis menjadi usulan saat guru mengisi lembar jurnal, dan peta ketuntasan TP memperlihatkan tujuan mana yang sudah dan belum diajarkan, jadi tidak perlu menyalin TP secara manual tiap pertemuan. Bank ATP yang sama dipakai Racik Ajar saat guru memilih TP untuk menyusun draf modul ajar.

Aplikasi tidak menyusun ATP untuk Anda dari nol dan tidak menjamin materi pasti tuntas tepat waktu, karena itu tetap bergantung pada pelaksanaan di kelas. Yang dibantu adalah bagian yang menyita waktu tanpa menambah makna: mengetik ulang dan menyalin. Wujud jurnal hariannya bisa dilihat di Format Jurnal Harian Guru Kurikulum Merdeka, sedangkan alasan jurnal yang tersambung data lebih ringan diisi dibahas di Apa Itu Jurnal Mengajar Digital.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan singkat antara CP, TP, dan ATP?

CP adalah kompetensi akhir fase yang ditetapkan pemerintah dan wajib dipakai apa adanya. TP adalah pecahan CP menjadi tujuan-tujuan kecil yang spesifik dan terukur, dirumuskan oleh guru. ATP adalah TP-TP itu yang sudah diurutkan sepanjang fase, lengkap dengan pembagian kelas dan alokasi JP. Ringkasnya, CP tujuan besarnya, TP potongannya, ATP urutannya.

Bolehkah memakai contoh ATP dari pemerintah tanpa menyusun sendiri?

Boleh. Panduan Pembelajaran dan Asesmen secara eksplisit membolehkan guru memakai contoh ATP yang disediakan pemerintah, mengadaptasinya, atau menyusun sendiri. Yang penting ATP itu benar-benar dibaca dan disesuaikan dengan alokasi waktu serta kondisi kelas, bukan sekadar diunduh lalu dicetak.

Berapa jumlah TP yang wajar dalam satu ATP fase?

Tidak ada angka baku, tetapi sebagai patokan, satu mapel untuk satu fase tiga tahun umumnya berkisar 30 sampai 40 TP. Jika melewati angka itu, biasanya ada tujuan terlalu rinci yang bisa digabung, dan ATP yang terlalu gemuk cenderung tidak tuntas diajarkan.

Apakah ATP yang disusun dari CP 2024 harus diganti?

Tidak otomatis, tetapi wajib dicek. CP sekarang mengacu pada Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 yang mencabut keputusan 032/H/KR/2024. Bandingkan elemen dan rumusan CP mapel Anda di dokumen baru; bila sama, cukup perbarui rujukannya. Untuk Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, cek juga Keputusan Kepala BKPDM Nomor 020 Tahun 2026 yang memperbarui CP mapel itu.

Apakah ATP harus disusun ulang setiap tahun ajaran?

Tidak perlu dari nol. ATP berlaku untuk satu fase, jadi kerangkanya bisa dipakai beberapa tahun selama CP-nya tidak berubah. Yang biasanya disesuaikan setiap tahun adalah alokasi JP dan penempatan TP mengikuti kalender pendidikan serta hasil evaluasi tahun sebelumnya, bukan merumuskan ulang seluruh tujuan.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.

WhatsApp

Referensi

  1. Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, Ruang GTK Kemendikdasmen
  2. Capaian Pembelajaran Baru Telah Terbit, yang Berubah Hanya Mata Pelajaran Agama dan Budi Pekerti (Kepka BKPDM No. 020 Tahun 2026), BKPDM Kemendikdasmen
  3. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025 (komponen TP dan cara menyusun ATP), BSKAP Kemendikdasmen
  4. Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK RI

Bagikan artikel ini

Bagikan ke WhatsApp

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Gratis selamanya. 14 hari pertama semua modul terbuka penuh tanpa batasan, setelah itu tetap pakai paket Gratis.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp