e-Jurnal

Apa Itu Jurnal Mengajar Digital dan Kenapa Guru Membutuhkannya

Sampul artikel: Apa Itu Jurnal Mengajar Digital dan Kenapa Guru Membutuhkannya

Setiap guru wajib mengisi jurnal mengajar. Praktiknya kita sama-sama tahu: buku jurnal sering baru dilengkapi rapel menjelang supervisi, sekadar gugur kewajiban. Padahal jurnal sebenarnya berguna kalau diisi jujur setiap hari. Jurnal digital mengubah cara kerjanya dari akar, bukan sekadar memindahkan buku ke layar.

Definisi singkat

Jurnal mengajar digital adalah catatan kegiatan pembelajaran yang diisi lewat aplikasi, bukan buku. Isinya kurang lebih sama dengan jurnal manual: hari dan jam, kelas, mata pelajaran, materi atau tujuan pembelajaran yang dibahas, kegiatan yang dilakukan, kehadiran siswa, dan catatan atau refleksi guru. Pembedanya ada pada keterhubungan. Jurnal digital yang baik menyatu dengan data sekolah lain, terutama jadwal pelajaran dan kehadiran siswa, sehingga sebagian besar kolom sudah terisi sebelum guru menyentuhnya.

Kenapa jurnal mengajar tetap wajib

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebut tugas utama guru mencakup mengajar serta menilai dan mengevaluasi peserta didik (Pasal 1 angka 1). Pasal 20 huruf a menegaskannya sebagai kewajiban: merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Jurnal adalah jejak paling sederhana dari proses itu: bukti bahwa materi benar diajarkan, di kelas mana, dan pada tanggal berapa. Saat akreditasi, jurnal kegiatan belajar mengajar termasuk bukti yang lazim diminta asesor untuk menilai kinerja pendidik dalam proses pembelajaran. Selama guru masih mengajar di kelas, jurnal akan tetap ada di daftar administrasi.

Standar Proses yang berlaku sekarang adalah Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026, ditetapkan 2 Januari 2026 dan berlaku sejak diundangkan pada 5 Januari 2026. Peraturan ini mencabut Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022, jadi panduan sekolah yang masih menyebut aturan lama itu perlu diperbarui. Isinya memperkuat alasan jurnal diisi jujur. Pasal 15 meminta guru menilai proses pembelajarannya sendiri lewat refleksi diri paling sedikit satu kali tiap semester, dan Pasal 16 sampai Pasal 19 membuka penilaian oleh sesama guru, oleh kepala sekolah lewat supervisi akademik, serta oleh murid lewat survei atau catatan refleksi. Semua itu butuh bahan, dan bahan paling dekat adalah catatan harian tentang apa yang benar terjadi di kelas.

Arah kebijakan beberapa tahun terakhir menekan beban administrasi guru supaya energi kembali ke ruang kelas. Pasal 5 Permendikdasmen 1/2026, misalnya, hanya mensyaratkan dokumen perencanaan memuat tiga komponen: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian atau asesmen. Akreditasi pun bergeser. BAN-PDM menyatakan penilaian mutu berpindah dari pemenuhan administrasi ke kinerja nyata, dengan empat komponen instrumen: kinerja pendidik, kepemimpinan kepala sekolah, iklim lingkungan belajar, dan hasil belajar.

Namun pergeseran itu tidak menghapus jurnal. Yang dituntut adalah jurnal yang mencerminkan apa yang sungguh terjadi di kelas, bukan tumpukan kertas yang dikarang semalam sebelum kunjungan. Jurnal digital membantu di titik ini, karena mengisinya dengan jujur lebih ringan daripada mengarang.

Masalah jurnal buku yang tidak pernah selesai

Buku jurnal punya cacat bawaan yang sudah lama kita maklumi. Formatnya berbeda antar guru, sehingga sulit dibandingkan. Bukunya tertinggal di rumah atau terselip, lalu isian tertunda. Karena menunda itu mudah, banyak guru akhirnya melengkapi ke belakang sekaligus saat pengawas mengumumkan jadwal, dan lembur massal pun terjadi. Yang paling merugikan, data di buku nyaris tidak bisa diolah. Kepala sekolah tidak bisa tahu kelas mana yang tertinggal materi tanpa membaca puluhan buku satu per satu, dan pola seperti guru yang sering kosong di jam terakhir tidak pernah terlihat.

Jurnal buku dan jurnal digital, apa saja bedanya

Supaya perbedaannya tidak abstrak, tabel berikut membandingkan keduanya pada hal-hal yang paling sering menyita waktu guru dan kepala sekolah.

AspekJurnal bukuJurnal digital yang terhubung
Identitas sesi (hari, jam, kelas, mapel)Ditulis ulang tiap pertemuanTerisi otomatis dari jadwal pelajaran
Kehadiran siswaDihitung dan disalin manualDitarik dari absensi harian dan presensi mapel
Tujuan pembelajaranDiketik ulang atau dikosongkanDipilih dari bank ATP yang disiapkan sekolah
Pengisian mundurBebas, mudah dirapelDibatasi jendela yang diatur sekolah; tanggal mendatang hanya draf
Rekap untuk kepala sekolahMembaca puluhan buku satu per satuDashboard harian, rekap per guru dan per kelas
Bukti untuk akreditasiDikumpulkan, difotokopi, dijilidDiekspor PDF atau Excel kapan saja

Cara kerja jurnal digital yang benar

Kuncinya ada di integrasi dengan jadwal. Di SiTuntas, setiap jam mengajar pada jadwal pelajaran otomatis menjadi satu lembar jurnal untuk guru yang bersangkutan, dan blok jam yang berturut-turut menjadi satu lembar saja. Guru tinggal membuka aplikasi dan lembarnya sudah menunggu: kelas, mata pelajaran, dan jam sudah terisi dari jadwal, kehadiran siswa per mata pelajaran terangkum di lembar yang sama, bahkan usulan tujuan pembelajaran bisa diambil dari Master ATP yang sudah disiapkan sekolah. Yang tersisa untuk guru adalah inti pekerjaannya, yaitu materi apa yang diajarkan, kegiatannya bagaimana, dan refleksi singkat. Satu kali isi itu langsung tercermin di beberapa tempat sekaligus: jurnal pribadi guru, Buku Jurnal Kelas, dan Dashboard KBM harian yang dibaca kepala sekolah, tanpa menyalin ulang ke mana-mana.

Karena kehadiran ditarik dari absensi, angka di jurnal dan angka di rekap kehadiran tidak mungkin berbeda. Guru tidak perlu menghitung ulang siapa yang hadir, izin, atau alfa hari itu, karena datanya sudah dihitungkan. Kalau sekolah memakai absensi wajah di gerbang, kaitan ini bahkan berjalan sejak pagi, jadi saat guru masuk kelas status kehadiran sudah siap dipakai.

Ada hal-hal kecil yang menentukan apakah jurnal digital benar dipakai atau kembali ditinggalkan. Status pertemuan sebaiknya bisa dicatat apa adanya: terlaksana, tidak terlaksana dengan alasan, diganti guru lain, atau digabung dengan kelas paralel. Lembar juga sebaiknya tidak ditagih pada hari libur atau pekan ujian yang sudah tercatat di kalender akademik. Dan karena sinyal di banyak sekolah tidak selalu stabil, draf perlu tersimpan di perangkat sampai koneksi kembali. Fitur semacam ini tidak mencolok, tetapi menentukan apakah guru mau mengisi seusai mengajar.

Jujur setiap hari, bukan rapel menjelang supervisi

Ada satu aturan yang sengaja dipasang dan patut dijelaskan terbuka: guru tidak bisa mengisi jurnal untuk pertemuan yang belum berlangsung. Isian untuk tanggal yang belum tiba hanya tersimpan sebagai draf dan tidak masuk dokumen resmi, sedangkan jendela pengisian mundur ditentukan sekolah, misalnya beberapa hari, sehingga jurnal tidak bisa dibackdate berbulan-bulan atau dikarang di muka. Sekilas ini terasa membatasi, tetapi aturan inilah yang membuat jurnal digital bernilai. Rekapnya bisa dipercaya karena mencerminkan urutan kejadian yang wajar. Bagi guru yang terbiasa mengisi setiap hari, aturan ini tidak terasa, karena mengisi dua menit seusai mengajar jauh lebih ringan daripada mengingat-ingat sebulan penuh kegiatan.

Dari catatan harian menjadi rekap yang siap ditinjau

Karena semua tersimpan terstruktur, rekap terbentuk sendiri. Kepala sekolah atau pengawas bisa membuka ringkasan kapan saja: berapa pertemuan yang sudah terlaksana per kelas, mata pelajaran mana yang tertinggal, dan siapa yang belum melengkapi jurnal minggu ini. Supervisi berubah dari memeriksa kelengkapan tumpukan buku menjadi membaca data yang sudah tersaji, sejalan dengan supervisi akademik yang disebut Pasal 18 Permendikdasmen 1/2026 dan arah akreditasi yang menilai kinerja nyata alih-alih sekadar kerapian berkas. Saat musim akreditasi tiba, dokumen jurnal seluruh guru sudah seragam formatnya dan tinggal ditarik dalam bentuk PDF atau Excel, tanpa drama lembur berjamaah.

Batasnya juga perlu diketahui: rekap semacam ini merangkum data jurnal dan tidak menggantikan instrumen observasi kelas berskor. Penilaian oleh sesama guru dan oleh murid yang dibuka Pasal 17 dan Pasal 19 tetap perlu dijalankan sekolah dengan caranya sendiri, misalnya lewat diskusi MGMP sekolah atau survei singkat di akhir semester. Jurnal digital menyediakan bahan untuk percakapan itu.

Manfaat yang langsung terasa

  • Guru: mengisi satu sampai dua menit dari HP seusai mengajar, tanpa salin-menyalin jadwal maupun daftar hadir.
  • Wali kelas: perjalanan pembelajaran kelasnya terlihat utuh, materi mana yang sudah dan belum tersampaikan.
  • Kepala sekolah: rekap semua guru terbuka kapan saja, sehingga supervisi berbasis data, bukan tebakan.
  • Sekolah: dokumen akreditasi yang rapi dan seragam, tersedia tanpa persiapan dadakan menjelang penilaian.

Mulai dari mana?

Syaratnya sebenarnya cuma satu: jadwal pelajaran yang sudah tertata secara digital, karena dari sanalah lembar jurnal terbentuk otomatis. Setelah jadwal siap, jurnal langsung jalan tanpa persiapan tambahan yang berarti. Baca cara SiTuntas menyusun jadwalnya di halaman Jadwal Pelajaran Otomatis, lalu lihat detail jurnalnya di halaman Jurnal Mengajar Digital. Untuk gambaran kolom yang perlu ada, ada juga contoh jurnal KBM sesuai Standar Proses dan format jurnal harian guru Kurikulum Merdeka yang bisa dijadikan acuan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah jurnal mengajar digital sah untuk supervisi dan akreditasi?

Ya. Yang dinilai asesor dan pengawas adalah keterlaksanaan pembelajaran, bukan apakah catatannya di buku atau di aplikasi. Justru rekap digital lebih mudah ditinjau karena formatnya seragam dan bisa ditarik kapan saja. Sekolah tetap dapat mengekspor atau mencetaknya dalam bentuk PDF atau Excel bila diminta dalam bentuk berkas.

Apakah Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 mewajibkan format jurnal tertentu?

Tidak. Peraturan itu mengatur perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran, bukan bentuk jurnalnya. Jurnal tetap dipakai sekolah sebagai bukti pelaksanaan sekaligus bahan refleksi diri guru yang diminta Pasal 15 dan supervisi akademik kepala sekolah pada Pasal 18. Formatnya boleh disusun sekolah sendiri, yang penting jujur dan konsisten.

Kalau kehadiran sudah tercatat otomatis, apakah guru masih perlu mengisi jurnal?

Masih. Kehadiran hanya menjawab siapa yang hadir, sedangkan jurnal menjawab apa yang diajarkan dan bagaimana kegiatannya. Bedanya, karena kehadiran sudah ditarik dari absensi, guru tidak perlu lagi mengurus bagian itu dan bisa fokus pada catatan materi serta refleksi.

Bisakah guru mengisi jurnal untuk hari yang belum berlangsung atau jauh ke belakang?

Untuk pertemuan yang belum berlangsung, isian hanya tersimpan sebagai draf dan tidak masuk dokumen resmi. Untuk pengisian mundur, sekolah menentukan sendiri jendelanya, misalnya beberapa hari, dan lewat itu lembar terkunci. Aturan ini sengaja dipasang supaya jurnal tidak bisa dikarang di muka atau dirapel berbulan-bulan, sehingga rekapnya tetap dapat dipercaya untuk supervisi.

Apa syarat teknis agar sekolah bisa memakai jurnal digital?

Cukup jadwal pelajaran yang sudah tertata digital sebagai dasar, lalu perangkat berkamera atau ponsel biasa dan koneksi internet. Aplikasi berjalan dari browser tanpa pemasangan, draf tersimpan di perangkat saat sinyal putus, dan data tiap sekolah berdiri di basis data yang terpisah.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.

WhatsApp

Referensi

  1. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 1 angka 1 dan Pasal 20), JDIH BPK RI
  2. Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK RI
  3. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026: Paradigma Baru Standar Proses Pembelajaran, BBPMP Jawa Tengah Kemendikdasmen
  4. Akreditasi Sekolah dari Compliance ke Performance, BAN-PDM
  5. Beban Administrasi Penghambat Inovasi Guru, RISE SMERU Research Institute

Bagikan artikel ini

Bagikan ke WhatsApp

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Gratis selamanya. 14 hari pertama semua modul terbuka penuh tanpa batasan, setelah itu tetap pakai paket Gratis.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp