Apa Itu Jurnal Mengajar Digital dan Kenapa Guru Membutuhkannya

Tim SiTuntas · 18 Juli 2026

Ditulis oleh Isep Nursamsi, S.T. · guru Informatika yang membangun dan memakai SiTuntas setiap hari di sekolah negeri.

Setiap guru wajib mengisi jurnal mengajar. Praktiknya kita sama-sama tahu: buku jurnal sering baru dilengkapi rapel menjelang supervisi, sekadar gugur kewajiban. Padahal jurnal sebenarnya berguna kalau diisi jujur setiap hari. Jurnal digital mengubah cara kerjanya dari akar, bukan sekadar memindahkan buku ke layar.

Definisi singkat

Jurnal mengajar digital adalah catatan kegiatan pembelajaran yang diisi lewat aplikasi, bukan buku. Isinya kurang lebih sama dengan jurnal manual: hari dan jam, kelas, mata pelajaran, materi atau tujuan pembelajaran yang dibahas, kegiatan yang dilakukan, kehadiran siswa, dan catatan atau refleksi guru. Yang membedakannya bukan medianya, melainkan keterhubungannya. Jurnal digital yang baik menyatu dengan data sekolah lain, terutama jadwal pelajaran dan kehadiran siswa, sehingga sebagian besar kolom sudah terisi sebelum guru menyentuhnya.

Kenapa jurnal mengajar tetap wajib

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebut tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menilai dan mengevaluasi peserta didik. Jurnal adalah jejak paling sederhana dari proses itu: bukti bahwa materi benar diajarkan, di kelas mana, dan pada tanggal berapa. Saat akreditasi, jurnal kegiatan belajar mengajar termasuk bukti fisik yang diminta asesor untuk menilai keterlaksanaan Standar Proses. Jadi selama guru masih mengajar di kelas, jurnal tidak akan hilang dari daftar administrasi.

Ada kabar baik dan kabar yang perlu jujur disampaikan. Kabar baiknya, arah kebijakan beberapa tahun terakhir memang menekan beban administrasi guru supaya energi kembali ke ruang kelas. Model akreditasi terbaru pun bergeser dari sekadar kelengkapan dokumen ke penilaian kinerja nyata. Kabar yang perlu jujur: pergeseran itu tidak menghapus jurnal, ia hanya menuntut jurnal yang lebih benar, yaitu yang mencerminkan apa yang sungguh terjadi, bukan tumpukan kertas yang dikarang semalam sebelum kunjungan. Di sinilah jurnal digital membantu, karena membuat pengisian jujur justru lebih ringan daripada mengarang.

Masalah jurnal buku yang tidak pernah selesai

Buku jurnal punya cacat bawaan yang sudah lama kita maklumi. Formatnya berbeda antar guru, sehingga sulit dibandingkan. Bukunya tertinggal di rumah atau terselip, lalu isian tertunda. Karena menunda itu mudah, banyak guru akhirnya melengkapi ke belakang sekaligus saat pengawas mengumumkan jadwal, dan lembur massal pun terjadi. Yang paling merugikan, data di buku nyaris tidak bisa diolah. Kepala sekolah tidak bisa tahu kelas mana yang tertinggal materi tanpa membaca puluhan buku satu per satu, dan pola seperti guru yang sering kosong di jam terakhir tidak pernah terlihat.

Cara kerja jurnal digital yang benar

Kuncinya ada di integrasi dengan jadwal. Di SiTuntas, setiap jam mengajar pada jadwal pelajaran otomatis menjadi satu lembar jurnal untuk guru yang bersangkutan. Guru tinggal membuka aplikasi dan lembarnya sudah menunggu: kelas, mata pelajaran, dan jam sudah terisi dari jadwal, daftar kehadiran siswa tertaut langsung dari absensi, bahkan usulan tujuan pembelajaran bisa diambil dari bank ATP atau kurikulum yang sudah disiapkan sekolah. Yang tersisa untuk guru adalah inti pekerjaannya, yaitu materi apa yang diajarkan, kegiatannya bagaimana, dan refleksi singkat. Satu kali isi itu langsung tercermin di tiga tempat sekaligus: jurnal pribadi guru, jurnal kelas, dan agenda harian, tanpa menyalin ulang ke mana-mana.

Karena kehadiran ditarik dari absensi, angka di jurnal dan angka di rekap kehadiran tidak mungkin berbeda. Guru tidak perlu menghitung ulang siapa yang hadir, izin, atau alfa hari itu, karena datanya sudah dihitungkan. Kalau sekolah memakai absensi wajah di gerbang, kaitan ini bahkan berjalan sejak pagi, jadi saat guru masuk kelas status kehadiran sudah siap dipakai.

Jujur setiap hari, bukan rapel menjelang supervisi

Ada satu aturan yang sengaja dipasang dan patut dijelaskan terbuka: guru tidak bisa mengisi jurnal untuk pertemuan yang belum berlangsung. Lembar baru terbuka setelah jam pelajarannya lewat, sehingga jurnal tidak bisa dibackdate atau dikarang di muka. Sekilas ini terasa membatasi, tetapi justru itu yang membuat jurnal digital bernilai. Rekapnya bisa dipercaya karena mencerminkan urutan kejadian yang wajar. Bagi guru yang memang mengisi setiap hari, aturan ini tidak terasa, karena mengisi dua menit seusai mengajar jauh lebih ringan daripada mengingat-ingat sebulan penuh kegiatan.

Dari catatan harian menjadi rekap yang siap ditinjau

Karena semua tersimpan terstruktur, rekap terbentuk sendiri. Kepala sekolah atau pengawas bisa membuka ringkasan kapan saja: berapa pertemuan yang sudah terlaksana per kelas, mata pelajaran mana yang tertinggal, dan siapa yang belum melengkapi jurnal minggu ini. Supervisi berubah dari memeriksa kelengkapan tumpukan buku menjadi membaca data yang sudah tersaji, sejalan dengan arah akreditasi terbaru yang menilai kinerja nyata alih-alih sekadar kerapian berkas. Saat musim akreditasi tiba, dokumen jurnal seluruh guru sudah seragam formatnya dan tinggal ditarik, tanpa drama lembur berjamaah.

Manfaat yang langsung terasa

  • Guru: mengisi satu sampai dua menit dari HP seusai mengajar, tanpa salin-menyalin jadwal maupun daftar hadir.
  • Wali kelas: perjalanan pembelajaran kelasnya terlihat utuh, materi mana yang sudah dan belum tersampaikan.
  • Kepala sekolah: rekap semua guru terbuka kapan saja, sehingga supervisi berbasis data, bukan tebakan.
  • Sekolah: dokumen akreditasi yang rapi dan seragam, tersedia tanpa persiapan dadakan menjelang penilaian.

Mulai dari mana?

Syaratnya sebenarnya cuma satu: jadwal pelajaran yang sudah tertata secara digital, karena dari sanalah lembar jurnal terbentuk otomatis. Setelah jadwal siap, jurnal langsung jalan tanpa persiapan tambahan yang berarti. Baca cara SiTuntas menyusun jadwalnya di halaman Jadwal Pelajaran Otomatis, lalu lihat detail jurnalnya di halaman Jurnal Mengajar Digital. Untuk gambaran kolom yang perlu ada, ada juga contoh jurnal KBM sesuai Standar Proses dan format jurnal harian guru Kurikulum Merdeka yang bisa dijadikan acuan.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah jurnal mengajar digital sah untuk supervisi dan akreditasi?

Ya. Yang dinilai asesor dan pengawas adalah keterlaksanaan pembelajaran, bukan apakah catatannya di buku atau di aplikasi. Justru rekap digital lebih mudah ditinjau karena formatnya seragam dan bisa ditarik kapan saja. Sekolah tetap dapat mengekspor atau mencetaknya bila diminta dalam bentuk berkas.

Kalau kehadiran sudah tercatat otomatis, apakah guru masih perlu mengisi jurnal?

Masih. Kehadiran hanya menjawab siapa yang hadir, sedangkan jurnal menjawab apa yang diajarkan dan bagaimana kegiatannya. Bedanya, karena kehadiran sudah ditarik dari absensi, guru tidak perlu lagi mengurus bagian itu dan bisa fokus pada catatan materi serta refleksi.

Bisakah guru mengisi jurnal untuk hari yang belum berlangsung atau jauh ke belakang?

Jurnal untuk pertemuan yang belum berlangsung tidak bisa diisi, karena lembarnya baru terbuka setelah jam pelajaran lewat. Aturan ini sengaja dipasang supaya jurnal tidak bisa dikarang di muka dan rekapnya tetap dapat dipercaya untuk supervisi.

Apa syarat teknis agar sekolah bisa memakai jurnal digital?

Cukup jadwal pelajaran yang sudah tertata digital sebagai dasar, lalu perangkat berkamera atau ponsel biasa dan koneksi internet. Aplikasi berjalan dari browser tanpa pemasangan, dan data tiap sekolah berdiri di basis data yang terpisah.

Referensi

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Semua fitur terbuka selama masa coba, tanpa instalasi.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp