Format Jurnal Harian Guru Kurikulum Merdeka + Contoh Pengisian
Setiap kali supervisi, pertanyaan pertama pengawas hampir selalu sama: mana jurnal harian gurunya? Masalahnya, banyak sekolah masih memakai format warisan KTSP yang kolomnya sudah tidak nyambung dengan Kurikulum Merdeka, sejak Kompetensi Dasar lebur menjadi capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran mengalir dari ATP. Artikel ini menguraikan kolom apa saja yang benar-benar perlu ada, lengkap dengan contoh pengisian nyata tiga hari yang bisa langsung ditiru.
Jurnal harian tetap wajib meski beban administrasi dipangkas
Ada anggapan bahwa Kurikulum Merdeka menghapus semua administrasi guru. Anggapan itu setengah benar. Semangatnya memang memangkas berkas yang tidak esensial supaya energi guru kembali ke kelas. Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025, misalnya, tetap menetapkan pelaksanaan pembelajaran paling sedikit 24 jam tatap muka per minggu (Pasal 13 ayat 1), hanya saja sebagiannya kini boleh dipenuhi lewat tugas tambahan yang diakui ekuivalensinya. Angka 16 jam yang sempat beredar di pemberitaan bukan bunyi pasal, melainkan hasil pengurangan dari ambang 24 jam itu. Tapi jurnal harian bukan bagian yang dipangkas. Ia justru menjadi bukti paling langsung bahwa pembelajaran sungguh berjalan.
Standar Proses yang berlaku sekarang, Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026, menetapkan kriteria minimal pelaksanaan pembelajaran, dari perencanaan sampai penilaian. Peraturan sebelumnya, Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022, sudah dicabut, jadi panduan lama yang masih merujuk ke sana perlu diperbarui. Jurnal adalah jejak paling sederhana bahwa tahap pelaksanaan itu benar terjadi: materi apa, di kelas mana, pada tanggal berapa. Jadi selama guru masih masuk kelas, jurnal tidak akan hilang dari daftar administrasi. Yang berubah bukan kewajibannya, melainkan tuntutan agar isinya jujur, bukan tumpukan kertas yang dirapel semalam sebelum kunjungan.
Tujuh kolom yang perlu ada di jurnal harian Kurikulum Merdeka
Tidak ada satu format baku dari pusat, dan justru di situ jebakannya. Sekolah bebas menyusun sendiri, tapi ada tujuh kolom yang dalam praktik supervisi hampir selalu dicari:
- Tanggal. Kelihatan sepele, tapi inilah bukti jurnal diisi harian, bukan dirapel semalam sebelum pengawas datang. Tanggal yang loncat-loncat langsung terbaca oleh pengawas berpengalaman.
- Kelas dan JP ke berapa. Satu guru bisa masuk kelas yang sama dua kali seminggu. Tanpa keterangan JP ke-1 sampai ke-2 atau ke-4 sampai ke-5, rekap beban mengajar jadi kabur dan sulit dicocokkan dengan jadwal.
- Tujuan Pembelajaran (TP) atau materi. Ini pembeda utama dari format lama. Dulu kolomnya diisi Kompetensi Dasar, sekarang diisi TP yang diambil dari ATP mapel bersangkutan, karena KD sudah lebur menjadi capaian pembelajaran. Kalau ATP-nya rapi, kolom ini tinggal salin, bukan mengarang.
- Kegiatan pembelajaran. Ringkas saja, dua sampai tiga kalimat: metodenya apa, siswa mengerjakan apa. Bukan menyalin ulang modul ajar.
- Kehadiran siswa. Cukup angka: hadir berapa dari berapa, siapa yang sakit, izin, atau alfa. Kolom ini yang menghubungkan jurnal dengan data absensi.
- Kendala. Kolom yang paling sering dikosongkan, padahal paling berharga. Proyektor mati, separuh kelas belum paham prasyarat, waktu terpotong upacara. Semua layak dicatat.
- Refleksi dan tindak lanjut. Jawaban atas kendala tadi. Mau remedial, mengulang materi, atau mengubah metode di pertemuan berikutnya. Kolom inilah yang membedakan jurnal dari sekadar daftar hadir.
Contoh pengisian nyata tiga hari
Supaya tidak mengawang, ini contoh jurnal yang sudah terisi. Dua guru, mapel Matematika dan IPA, tiga hari berturut-turut di sebuah SMP. Perhatikan tiap entri sengaja dibuat pendek:
- Senin, 10/8, VII A, JP 1-2 (Matematika). TP: membandingkan dan mengurutkan bilangan bulat. Kegiatan: garis bilangan dengan kartu suhu kota, lanjut LKPD kelompok empat orang. Kehadiran: 30 dari 32 (2 sakit). Kendala dan tindak lanjut: enam siswa masih tertukar tanda negatif, diberi latihan tambahan di pertemuan berikutnya.
- Selasa, 11/8, VIII B, JP 3-5 (IPA). TP: menganalisis gerak lurus beraturan melalui percobaan. Kegiatan: percobaan mobil mainan di lintasan 2 meter, siswa mencatat waktu tiap 50 cm, lalu diskusi grafik. Kehadiran: 31 dari 31 (lengkap). Kendala dan tindak lanjut: stopwatch hanya empat unit untuk delapan kelompok, akan pinjam ponsel siswa dengan izin wali kelas.
- Rabu, 12/8, VII A, JP 4-5 (Matematika). TP: operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Kegiatan: permainan mistar hitung berpasangan, ditutup kuis sepuluh soal. Kehadiran: 32 dari 32 (lengkap). Kendala dan tindak lanjut: waktu habis sebelum pembahasan kuis, akan dibahas di awal pertemuan Senin.
Jurnal yang baik itu jujur dan ringkas, bukan panjang. Kalau tiap baris butuh 15 menit menulis, kebiasaan itu tidak akan bertahan lama. Justru kolom kendala dan tindak lanjut yang terisi jujur paling menolong saat menyusun rencana pertemuan berikutnya, dan paling dihargai pengawas karena menunjukkan guru sungguh berefleksi.
Jurnal harian, jurnal kelas, dan agenda guru itu tiga hal berbeda
Ketiganya sering dicampuradukkan, jadi ada baiknya dipilah. Jurnal harian guru dipegang tiap guru, mencatat semua kelas yang dia ajar hari itu. Jurnal kelas menempel di satu kelas, diisi bergantian oleh setiap guru yang masuk, biasanya dikelola wali kelas. Sudut pandangnya kebalikan: satu kelas, banyak guru. Sementara agenda guru berisi rencana, apa yang akan diajarkan minggu ini, semacam turunan ringkas dari modul ajar. Jurnal harian mencatat yang sudah terjadi, agenda mencatat yang akan terjadi. Yang paling sering diminta saat supervisi adalah jurnal harian.
Kaitan jurnal dengan supervisi kepala sekolah dan akreditasi
Bagi kepala sekolah, jurnal harian adalah alat supervisi paling murah. Tanpa masuk kelas pun, kepala sekolah bisa melihat apakah materi antarkelas berjalan seimbang, guru mana yang sering terkendala, dan kelas mana yang tertinggal dari ATP. Saat supervisi akademik, jurnal menjadi bahan percakapan awal sebelum observasi kelas.
Untuk akreditasi, jurnal masuk sebagai bukti pada komponen Proses Pembelajaran. Sejak IASP 2020, penilaian akreditasi bergeser dari kelengkapan administrasi ke kinerja nyata. Asesor tidak lagi sekadar menghitung ada atau tidaknya berkas, melainkan membaca apakah pembelajaran sungguh berjalan. Yang mereka cari bukan jurnal yang sempurna, melainkan jurnal yang konsisten. Delapan puluh persen terisi sepanjang tahun jauh lebih meyakinkan daripada 100 persen terisi tapi jelas dirapel, dengan tinta dan tulisan yang seragam dari Juli sampai Juni.
Mengisi jurnal lebih cepat lewat aplikasi
Kendala terbesar jurnal manual bukan menulisnya, tapi menyalin hal yang itu-itu saja: tanggal, kelas, JP, mapel. Padahal semua data itu sudah ada di jadwal pelajaran. Di situlah jurnal digital mengambil alih. Pada e-Jurnal SiTuntas, setiap jam mengajar di jadwal otomatis menjadi lembar jurnal yang kelas, JP, dan mapelnya sudah terisi. Guru tinggal melengkapi materi dan refleksi, dan bila sekolah sudah menyiapkan bank ATP, usulan TP pun bisa dipilih alih-alih diketik ulang.
Perlu jujur soal batasnya. Aplikasi tidak menulis refleksi menggantikan guru, dan tidak bisa menilai apakah pembelajaran berkualitas. Ia memangkas pekerjaan salin-menyalin dan menjaga rekap tetap rapi, sisanya tetap pekerjaan guru. Satu hal sengaja dipasang: lembar jurnal baru terbuka setelah jam pelajarannya lewat, jadi tidak bisa diisi di muka dan rekapnya tetap dapat dipercaya. Sebagai gantinya, kepala sekolah memperoleh rekap per guru maupun per kelas tanpa mengumpulkan buku satu per satu. Kalau masih menimbang perlu tidaknya beralih dari buku, tulisan Apa Itu Jurnal Mengajar Digital membahasnya lebih dalam, dan contoh jurnal KBM sesuai Standar Proses bisa jadi acuan tambahan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ada format jurnal harian baku dari Kemendikbud untuk Kurikulum Merdeka?
Tidak ada satu format tunggal yang diwajibkan. Sekolah menyusun sendiri kolomnya, asalkan memuat unsur inti pelaksanaan pembelajaran. Yang dijadikan acuan adalah kriteria Standar Proses pada Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022, bukan template kolom tertentu. Karena itu tujuh kolom di atas sudah cukup jadi rangka yang aman untuk supervisi maupun akreditasi.
Kolom apa yang membedakan jurnal Kurikulum Merdeka dari format KTSP lama?
Terutama kolom tujuan pembelajaran. Pada Kurikulum Merdeka, Kompetensi Dasar sudah dilebur menjadi capaian pembelajaran, dan yang dicatat guru adalah Tujuan Pembelajaran yang diambil dari Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Format lama yang masih menulis KD dan indikator sebaiknya diperbarui agar tidak dinilai ketinggalan saat supervisi.
Berapa kali jurnal harian sebaiknya diisi?
Idealnya setiap kali selesai mengajar, satu entri per pertemuan tiap kelas. Mengisi seusai jam pelajaran hanya butuh satu sampai dua menit dan isinya masih segar di ingatan. Kebiasaan merapel di akhir bulan justru menghasilkan catatan yang seragam dan kurang meyakinkan, karena detail kendala tiap hari biasanya sudah lupa.
Apakah jurnal harian sama dengan agenda guru dan jurnal kelas?
Tidak. Jurnal harian dipegang tiap guru untuk semua kelas yang ia ajar. Jurnal kelas menempel di satu kelas dan diisi bergantian oleh setiap guru yang masuk. Agenda guru berisi rencana yang akan diajarkan, bukan catatan yang sudah terjadi. Dari ketiganya, yang paling sering diminta saat supervisi dan akreditasi adalah jurnal harian.
Referensi
- Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses pada PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, JDIH BPK RI
- Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran Kurikulum Merdeka (Kepmendikbudristek Nomor 262/M/2022), Kemendikdasmen
- Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru (minimal 16 jam tatap muka), ANTARA News
- Reformasi sistem akreditasi dan IASP 2020 (pergeseran dari administrasi ke kinerja), BAN-S/M Kemendikbud
Baca juga
Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?
SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Semua fitur terbuka selama masa coba, tanpa instalasi.
Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin
Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp