e-Jurnal

Contoh Jurnal KBM Sesuai Standar Proses Terbaru

Sampul artikel: Contoh Jurnal KBM Sesuai Standar Proses Terbaru

Kolom yang perlu ada di jurnal KBM biasanya lebih sedikit dari yang dibayangkan. Standar Proses yang berlaku sekarang mendorong dokumen yang ringkas tapi bermakna, bukan jurnal tebal yang menyita waktu guru. Di bawah ini ada kolom intinya, contoh pengisian yang baik, dan cara mengisinya dengan cepat tanpa mengorbankan mutu catatan.

Semangat Standar Proses terbaru: ringkas dan reflektif

Sejak 5 Januari 2026, Standar Proses mengacu pada Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 yang menggantikan Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022. Regulasi ini menegaskan tiga bagian dalam proses pembelajaran: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses (Pasal 2). Ketiganya didorong berjalan dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan (Pasal 3). Arah kebijakannya konsisten dengan beberapa tahun terakhir, yaitu mengurangi beban administrasi supaya energi guru kembali ke kelas. Buktinya ada di Pasal 5: dokumen perencanaan pembelajaran cukup memuat tiga komponen, yaitu tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian atau asesmen.

Budaya refleksi juga diperkuat. Evaluasi kini mencakup proses mengajar guru, tidak hanya hasil belajar murid, dan dilakukan paling sedikit sekali setiap semester. Jurnal KBM berperan di sini sebagai catatan jujur tentang apa yang terjadi di kelas berikut refleksinya. Jurnal yang baik diukur dari maknanya, bukan dari ketebalannya.

Siapa yang menilai proses pembelajaran, dan apa kaitannya dengan jurnal

Bab IV Permendikdasmen 1/2026 merinci siapa saja yang menilai proses pembelajaran. Peraturannya tidak menyebut kata jurnal, tetapi semua bentuk penilaian di bawah ini membutuhkan catatan tentang apa yang sungguh terjadi di kelas, dan jurnal KBM adalah sumber catatan yang paling dekat.

PenilaiBentuk penilaianMinimalYang bisa diambil dari jurnal
Guru sendiri (Pasal 15)Refleksi diri, boleh mengacu pada analisis hasil belajar murid1 kali per semesterKolom refleksi dan kendala sepanjang semester
Sesama guru (Pasal 17)Diskusi perencanaan, mengamati pelaksanaan, merefleksikan hasilnya1 kali per semesterMateri dan kegiatan yang sudah berjalan sebagai bahan diskusi
Kepala sekolah (Pasal 18)Supervisi akademik, analisis hasil belajar, umpan balik1 kali per semesterRekap keterlaksanaan per guru dan per kelas
Murid (Pasal 19)Survei, catatan, atau diskusi refleksi proses pembelajaran1 kali per semester per mata pelajaranDaftar pertemuan dan materi yang bisa dijadikan pijakan survei

Perhatikan bahwa semuanya berbasis refleksi, bukan kelengkapan berkas. Jurnal yang diisi rapel di akhir semester tidak bisa menjadi bahan refleksi yang jujur, karena kendala yang sesungguhnya sudah lupa.

Kolom inti jurnal KBM

Meski format bisa berbeda antar sekolah, komponen wajibnya sebenarnya seragam dan tidak banyak. Lima kolom berikut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan supervisi maupun akreditasi.

  1. Identitas sesi: hari, tanggal, jam ke, kelas, dan mata pelajaran. Bagian ini yang paling sering memakan waktu kalau ditulis manual. Di jurnal digital, identitas sesi terisi otomatis dari jadwal.
  2. Materi atau tujuan pembelajaran: apa yang dipelajari hari itu, cukup satu atau dua kalimat yang merujuk pada capaian pembelajaran atau tujuan sesi.
  3. Kegiatan pembelajaran: ringkas saja, misalnya diskusi kelompok, praktikum, presentasi, atau penilaian harian. Tujuannya menggambarkan cara belajar, bukan menyalin ulang skenario di modul ajar. Kalau ingin selaras dengan Pasal 10, cukup sebut bagian mana yang mengajak murid memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
  4. Kehadiran siswa: siapa yang hadir, izin, sakit, atau tanpa keterangan. Di SiTuntas bagian ini tertaut otomatis dari absensi, jadi tidak dihitung ulang.
  5. Refleksi atau catatan: apa yang berjalan baik, apa kendalanya, dan siapa yang perlu perhatian. Inilah kolom yang paling bernilai menurut semangat Standar Proses terbaru.

Sebagian sekolah menambahkan kolom pendukung seperti metode, media yang dipakai, bentuk penilaian, dan tindak lanjut. Tambahan itu boleh saja, selama tidak membuat guru enggan mengisi. Prinsipnya: cukup lengkap untuk dibaca kepala sekolah, cukup ringkas untuk diisi setiap hari.

Contoh pengisian yang baik

Ambil satu sesi nyata. Matematika kelas 8A, jam ke 1 sampai 2. Materi: teorema Pythagoras. Kegiatan: pembuktian dengan potongan karton per kelompok, dilanjutkan latihan soal. Kehadiran: 30 hadir, 1 sakit, 1 izin. Refleksi: sebagian besar kelompok memahami konsep, tiga siswa masih tertukar menentukan sisi miring, perlu pendampingan pekan depan.

Coba hitung, isinya hanya lima kalimat. Namun kepala sekolah yang membacanya langsung tahu kondisi kelas itu hari itu. Bandingkan dengan contoh untuk mata pelajaran lain. IPA kelas 7B, jam ke 3 sampai 4. Materi: perubahan wujud zat. Kegiatan: demonstrasi es mencair dan air mendidih, siswa mencatat suhu. Kehadiran: 31 hadir, 1 tanpa keterangan. Refleksi: siswa antusias saat demonstrasi, tetapi pencatatan data masih berantakan, besok akan disiapkan tabel pengamatan. Dua contoh ini pendek, tetapi keduanya bermakna karena memuat refleksi yang konkret. Begini wujudnya kalau dituangkan ke format kolom.

KolomMatematika 8A, Senin, JP 1-2IPA 7B, Selasa, JP 3-4
Materi / TPMenunjukkan kebenaran teorema Pythagoras dan menggunakannya menyelesaikan masalahMengidentifikasi perubahan wujud zat berdasarkan pengamatan suhu
KegiatanPembuktian dengan potongan karton per kelompok, lalu latihan soalDemonstrasi es mencair dan air mendidih, siswa mencatat suhu tiap menit
Kehadiran30 hadir, 1 sakit, 1 izin31 hadir, 1 tanpa keterangan
Refleksi / kendalaTiga siswa masih tertukar menentukan sisi miringPencatatan data berantakan, siswa belum punya tabel pengamatan
Tindak lanjutPendampingan kelompok kecil pekan depanMenyiapkan tabel pengamatan untuk pertemuan berikutnya

Perhatikan bahwa refleksinya menyebut hal yang spesifik: siapa yang masih tertukar, bagian mana yang berantakan, dan apa langkah berikutnya. Itu yang membedakannya dari catatan basa-basi. Refleksi yang menyebut nama masalah dan rencana perbaikan bisa langsung ditindaklanjuti pekan depan, sedangkan kalimat seperti "semua berjalan baik" hanya memenuhi kolom tanpa memberi arah. Dari jurnal semacam ini, kepala sekolah bisa melihat di bagian mana guru butuh dukungan.

Cara mengisi jurnal secara efisien

Kendala klasik jurnal KBM ada pada waktunya. Guru sudah lelah mengajar, lalu masih harus menulis ulang identitas kelas dan menghitung kehadiran. Beberapa kebiasaan berikut membuat pengisian jauh lebih ringan.

  • Isi tepat setelah sesi, bukan dirapel. Refleksi paling akurat saat ingatan masih segar. Menunda seminggu membuat catatan berubah menjadi tebakan.
  • Manfaatkan data yang sudah ada. Identitas sesi dari jadwal dan kehadiran dari absensi tidak perlu ditulis ulang kalau sistemnya menautkannya untuk Anda.
  • Pakai kerangka refleksi sederhana. Banyak guru memakai pola empat pertanyaan: apa yang terjadi, apa yang dirasakan, apa yang dipelajari, dan apa yang akan diubah. Kerangka ini membuat refleksi tetap singkat tetapi terarah.
  • Fokus pada satu hal yang menonjol. Tidak semua sesi punya kejadian besar. Cukup catat satu keberhasilan atau satu kendala yang paling layak diingat.
  • Kumpulkan refleksi harian menjadi refleksi semester. Menjelang akhir semester, baca ulang kolom refleksi dan kendala, lalu tulis satu halaman refleksi diri. Dengan begitu kewajiban Pasal 15 selesai tanpa mengarang dari nol.

Efisien di sini berarti menghapus pekerjaan yang seharusnya tidak ada, seperti menyalin data yang sudah diketahui sistem.

Yang sebaiknya dihindari

  • Menyalin ulang isi modul ajar ke jurnal. Jurnal adalah catatan kejadian, bukan duplikat perencanaan. Perencanaan pun, menurut Pasal 5, cukup memuat tujuan, langkah, dan asesmen.
  • Mengisi rapel seminggu sekaligus. Nilai refleksinya hilang dan tanggalnya jadi tidak dapat dipercaya.
  • Format berbeda tiap guru. Rekap sekolah menjadi mustahil dan kepala sekolah kesulitan membacanya.
  • Refleksi yang basa-basi seperti "pembelajaran berjalan lancar" tanpa detail. Kalimat semacam itu tidak membantu perbaikan.
  • Masih merujuk Permendikbudristek 16/2022 di kop atau petunjuk pengisian jurnal. Aturan itu sudah dicabut, ganti rujukannya ke Permendikdasmen 1/2026.

Bagaimana jurnal digital merapikannya

Tiga masalah pertama pada daftar di atas selesai dengan sendirinya begitu jurnal pindah ke digital. Di SiTuntas, satu kali mengisi jurnal mengalir menjadi jurnal guru, Buku Jurnal Kelas, dan Dashboard KBM harian sekaligus, jadi tidak ada penulisan ganda. Identitas sesi terisi otomatis dari jadwal, dan kehadiran tertaut langsung ke data absensi. Guru tinggal fokus pada dua hal yang butuh pemikiran: materi dan refleksi.

Ada satu rambu yang sengaja dipasang. Guru tidak bisa mengisi jurnal untuk sesi yang belum berlangsung, isian untuk tanggal mendatang hanya tersimpan sebagai draf, dan jendela pengisian mundur diatur sekolah, sehingga catatan tetap jujur dan tanggalnya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk perencanaan, tersedia Master ATP per mata pelajaran yang bisa dijadikan rujukan tujuan pembelajaran. Di akhir semester, semua sesi terkumpul rapi dalam Laporan dan Rekap KBM (PDF dan Excel) serta Paket Supervisi per guru yang siap dipakai kepala sekolah untuk supervisi akademik, tanpa perlu mengumpulkan buku satu per satu.

Paket Supervisi itu merangkum data jurnal dan tidak menggantikan instrumen observasi berskor; penilaian oleh sesama guru atau murid tetap dijalankan sekolah dengan caranya sendiri. Lihat cara kerjanya di halaman Jurnal Mengajar Digital, atau pelajari dasarnya lewat Apa Itu Jurnal Mengajar Digital dan Format Jurnal Harian Guru.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa saja komponen wajib jurnal KBM?

Ada lima: identitas sesi, materi atau tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, kehadiran siswa, dan refleksi atau catatan. Sekolah boleh menambah kolom pendukung, tetapi kelima komponen ini sudah memenuhi kebutuhan supervisi dan akreditasi.

Apakah Standar Proses terbaru mewajibkan format jurnal tertentu?

Tidak ada format baku yang wajib diseragamkan secara nasional. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 lebih menekankan pembelajaran yang bermakna dan reflektif daripada bentuk dokumennya, bahkan tidak menyebut kata jurnal. Yang penting jurnal menggambarkan proses dengan jujur dan memuat refleksi.

Siapa saja yang menilai proses pembelajaran menurut Permendikdasmen 1/2026?

Guru yang bersangkutan lewat refleksi diri (Pasal 15), dan dapat ditambah sesama guru (Pasal 17), kepala sekolah lewat supervisi akademik (Pasal 18), serta murid lewat survei atau catatan refleksi (Pasal 19). Masing-masing paling sedikit satu kali tiap semester. Jurnal KBM yang diisi jujur menjadi bahan paling praktis untuk semua bentuk penilaian itu.

Seberapa panjang idealnya isi satu sesi jurnal?

Cukup beberapa kalimat. Contoh lima kalimat di atas sudah memadai selama memuat materi, kegiatan, kehadiran, dan refleksi yang konkret. Panjang bukan ukuran mutu, kejelasan yang lebih penting.

Bolehkah mengisi jurnal beberapa hari sekaligus?

Sebaiknya tidak. Refleksi paling akurat saat ingatan masih segar, dan pengisian rapel membuat tanggal serta detailnya diragukan. Di jurnal digital SiTuntas, sesi yang belum berlangsung hanya bisa disimpan sebagai draf, dan batas pengisian mundur ditentukan sekolah untuk menjaga kejujuran catatan.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.

WhatsApp

Referensi

  1. Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK RI
  2. Salinan Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 (PDF), peraturan.go.id
  3. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026: Paradigma Baru Standar Proses Pembelajaran, BBPMP Jawa Tengah Kemendikdasmen
  4. Akreditasi Sekolah dari Compliance ke Performance, BAN-PDM

Bagikan artikel ini

Bagikan ke WhatsApp

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Gratis selamanya. 14 hari pertama semua modul terbuka penuh tanpa batasan, setelah itu tetap pakai paket Gratis.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp