e-Rapor

Cara Membuat KKTP: 4 Pendekatan, Interval Nilai, dan Contoh per Fase

Sampul artikel: Cara Membuat KKTP: 4 Pendekatan, Interval Nilai, dan Contoh per Fase

Cara membuat KKTP: rumuskan kriteria untuk setiap tujuan pembelajaran saat merencanakan asesmen, lalu pilih salah satu dari empat pendekatan dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025, yaitu deskripsi kriteria, rubrik, skala atau interval nilai, dan persentase. Batas tuntas ditetapkan guru dan disepakati sekolah, bukan satu angka 75 untuk semua mapel. Di bawah ada tabel perbandingan dengan KKM, interval siap pakai, dan contoh KKTP Fase C dan Fase D.

Apa bedanya KKTP dengan KKM?

KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) lahir dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Pasal 1 angka 6 mendefinisikannya sebagai kriteria ketuntasan belajar yang ditentukan satuan pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan, Pasal 10 mengatur penetapannya lewat rapat dewan pendidik, dan Pasal 9 mewajibkan siswa yang belum mencapai KKM mengikuti pembelajaran remedi. Dalam praktik, KKM menjadi satu angka per mata pelajaran.

Aturan itu sudah dicabut. Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, ditetapkan 26 April 2022 dan berlaku sejak diundangkan 28 April 2022, mencabut Permendikbud 23/2016 melalui Pasal 13. Istilah KKM tidak muncul lagi. Pasal 9 ayat (8) menyebut penilaian pencapaian hasil belajar dilakukan dengan membandingkan pencapaian siswa dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Dari frasa itulah singkatan KKTP berasal, dan cara menyusunnya dijabarkan dalam Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 terbitan BSKAP Kemendikdasmen.

AspekKKM (Permendikbud 23/2016, dicabut)KKTP (Permendikbudristek 21/2022, berlaku)
BentukSatu angka per mata pelajaran, misalnya 75Kriteria per tujuan pembelajaran: deskripsi, rubrik, interval nilai, atau persentase
Satuan yang diputuskan tuntasMata pelajaran dalam satu semesterSetiap tujuan pembelajaran; ketidaktuntasan ditandai per TP
Siapa menetapkanSatuan pendidikan lewat rapat dewan pendidikPendidik saat merencanakan asesmen; rentang angkanya disepakati di satuan pendidikan
Cara memutuskan tuntasNilai lebih besar atau sama dengan angka KKMBukti kerja siswa dibandingkan dengan kriteria; guru menentukan batasnya, misalnya minimal 3 dari 4 kriteria tercapai
Tindak lanjutBelum mencapai KKM wajib pembelajaran remediRemedial pada kriteria yang belum tercapai, pengayaan bagi yang melampaui

Panduan 2025 adalah panduan, bukan peraturan; contoh di dalamnya disebut sebagai inspirasi, dan pendidik diberi keleluasaan menentukan jumlah kriteria serta skalanya. Yang mengikat adalah prinsip Permendikbudristek 21/2022: tuntas diputuskan dengan membandingkan bukti belajar siswa terhadap kriteria per tujuan pembelajaran.

Kapan KKTP dibuat dan siapa yang membuatnya

Panduan 2025 (Bab III) menempatkan KKTP di tahap perencanaan: kriteria dikembangkan saat guru merencanakan asesmen, yaitu ketika menyusun RPP atau modul ajar, dan kriteria itulah yang menjadi pertimbangan memilih instrumen asesmen. Panduan juga menegaskan kriteria ketercapaian bukan berupa angka, melainkan kalimat yang menjelaskan penguasaan kompetensi; angka boleh dipakai sebagai hasil konversi, bukan pengganti kriteria. Urutan kerjanya, mengikuti arahan Lampiran 5 Panduan:

  1. Baca TP, tandai kata kerja dan materi utamanya. Pada TP "menyelesaikan persamaan linear satu variabel", kata kerjanya "menyelesaikan". Kalau ATP sekolah belum rapi, bereskan dulu lewat panduan cara menyusun ATP dari Capaian Pembelajaran.
  2. Rumuskan 3 sampai 6 kriteria dengan kata kerja yang bisa diamati. "Menentukan", "menghitung", "menjelaskan" bisa dibuktikan di lembar kerja; "memahami" tidak.
  3. Pilih pendekatan yang cocok dengan bentuk buktinya: daftar centang untuk tugas sederhana, rubrik untuk produk atau kinerja, interval untuk yang perlu diangkakan.
  4. Tetapkan batas tuntas sebelum asesmen, misalnya minimal 3 dari 4 kriteria tercapai, atau semua kriteria minimal tahap cakap.
  5. Sepakati di tingkat sekolah rentang angka untuk pengolahan nilai, tulis di modul ajar, dan sampaikan ke siswa di awal pembelajaran.

Empat pendekatan menyusun KKTP menurut Panduan 2025

Panduan memberi empat pendekatan, ditambah pintu untuk pendekatan lain sesuai kesiapan pendidik. Contohnya memakai satu TP Bahasa Indonesia Fase C tentang menulis laporan hasil pengamatan.

1. Deskripsi kriteria

Guru menulis beberapa kriteria, lalu menandai tercapai atau belum untuk tiap kriteria. Contoh Panduan memuat empat kriteria (laporan runtut, berdasar data pengamatan, pengalaman diceritakan terstruktur, hubungan sebab akibat logis), dan siswa dianggap mencapai TP jika minimal tiga kriteria tercapai. Ini pendekatan paling ringan untuk tugas harian.

2. Rubrik

Setiap kriteria dijabarkan menjadi beberapa tahap capaian dengan deskripsi kinerja. Contoh Panduan memakai empat tahap (baru berkembang, layak, cakap, mahir) untuk dua aspek, isi laporan dan penulisan, dengan ketentuan tuntas jika kedua aspek minimal cakap. Rubrik paling cocok untuk produk, proyek, dan praktik.

3. Skala atau interval nilai

Kriteria diberi skala, misalnya 1 sampai 5, lalu skornya dijumlahkan dan dikonversi ke angka 0 sampai 100. Contoh Panduan: siswa bernama Didi mendapat skor 4 pada tiga kriteria dan skor 2 pada satu kriteria, total 14 dari maksimum 20, sehingga nilainya 14 : 20 x 100 = 70. Angka 70 lalu dibaca dengan tabel interval untuk memutuskan tuntas dan tindak lanjutnya. Bobot kriteria diasumsikan sama, tetapi sekolah boleh membedakannya.

4. Persentase

Guru menghitung persentase kriteria yang sudah dikuasai dalam satu periode. Contoh Panduan: satu fase punya 4 TP dengan 5 kriteria per TP, total 20 kriteria; siswa yang menguasai 15 kriteria berarti 75 persen, yang menguasai 18 berarti 90 persen. Pendekatan ini tetap butuh kesepakatan berapa persen yang dianggap tuntas.

Catatan: sejumlah artikel di internet menyebut pendekatan keempat sebagai "skala" atau "graduasi"; dalam Panduan edisi revisi 2025, skala digabung ke pendekatan ketiga dan pendekatan keempatnya adalah persentase.

Contoh interval nilai yang bisa langsung dipakai

Tabel berikut disalin dari Panduan 2025, dipakai setelah nilai diperoleh, baik dari rubrik yang dikonversi maupun dari tes.

Interval (versi Panduan)Ketercapaian dan tindak lanjut
0 - 20Belum mencapai TP; guru menanyakan tantangan yang dihadapi siswa, remedial dengan mempelajari kembali seluruh kriteria
21 - 40Belum mencapai TP; remedial dengan mempelajari kembali sebagian besar kriteria
41 - 60Hampir mencapai TP; remedial pada kriteria yang diperlukan saja
61 - 80Sudah mencapai TP
81 - 100Sudah mencapai TP, perlu tantangan lebih (pengayaan)

Banyak sekolah lebih nyaman dengan empat kategori, sejajar dengan empat kualitas (perlu bimbingan, cukup, baik, sangat baik) yang dipakai Panduan di bagian pengolahan nilai. Versi yang bisa disepakati di rapat dewan guru:

Interval (versi sekolah)KategoriTindak lanjut
0 - 40Belum mencapai TPRemedial menyeluruh dengan pendampingan, bukan sekadar tes ulang
41 - 65Belum sepenuhnya mencapai TPRemedial terarah pada kriteria yang belum tercapai
66 - 85Sudah mencapai TPLanjut ke TP berikutnya
86 - 100Sangat mencapai atau melampaui TPPengayaan atau menjadi tutor sebaya

Dua catatan wajib. Pertama, angka versi sekolah di atas bukan angka resmi, melainkan contoh kesepakatan yang boleh diubah; Panduan sendiri di bagian pengolahan nilai memakai contoh lain, yaitu 0-55 belum tercapai dan 56-100 tercapai. Kedua, rentang boleh sama untuk semua mapel atau berbeda, tergantung kesepakatan pendidik. Yang tidak boleh ditawar: interval disepakati sebelum asesmen dan selalu didahului kriteria.

Contoh KKTP siap pakai untuk satu TP Fase D dan satu TP Fase C

Fase D (SMP kelas VII), Matematika, deskripsi kriteria plus interval

Tujuan pembelajaran: Siswa dapat menyelesaikan persamaan linear satu variabel dan menerapkannya pada masalah sehari-hari. Bukti: lembar kerja lima soal, dua di antaranya soal cerita. Tiap kriteria diberi skor 1 sampai 4.

KriteriaSkor 1Skor 2Skor 3Skor 4
Mengubah soal cerita menjadi persamaanBelum menuliskan variabelVariabel ada, persamaan belum tepatTepat pada 1 dari 2 soal ceritaTepat pada kedua soal cerita
Menyelesaikan persamaan dengan langkah setara pada kedua ruasLangkah acak, hasil salahLangkah benar sebagian, hasil salahLangkah benar, ada salah hitung kecilLangkah dan hasil benar semua
Memeriksa jawaban dengan substitusiTidak memeriksaMemeriksa, tetapi salahMemeriksa sebagian soal dengan benarMemeriksa semua soal dengan benar
Menafsirkan hasil ke konteks soal (satuan, kalimat jawaban)Tidak ada kalimat jawabanKalimat jawaban ada, satuan salahBenar pada 1 soal ceritaBenar pada semua soal cerita

Ketentuan tuntas di modul ajar: total skor minimal 11 dari 16 (setara 69 setelah dikonversi) dan tidak ada kriteria berskor 1. Andi memperoleh 4, 3, 3, dan 2, total 12 dari 16 atau 75; dengan interval versi sekolah, Andi masuk 66-85: sudah mencapai TP. Sinta memperoleh 3, 2, 1, dan 3, total 9 dari 16 atau 56: belum sepenuhnya mencapai, dan karena ada kriteria berskor 1, remedialnya diarahkan ke kriteria kedua dan ketiga saja.

Fase C (SD kelas V), Bahasa Indonesia, rubrik

Tujuan pembelajaran: Siswa dapat menulis teks laporan hasil pengamatan sederhana tentang lingkungan sekolah dengan struktur pembuka, isi, dan penutup. Bukti: satu teks laporan dua sampai tiga paragraf tentang taman sekolah.

AspekBaru berkembangLayakCakapMahir
Struktur teksHanya satu bagian munculDua bagian muncul, urutan belum tepatPembuka, isi, penutup lengkap dan runtutLengkap, runtut, penutup memuat simpulan
Kesesuaian isi dengan pengamatanIsi tidak berdasar hal yang diamatiSebagian isi sesuai pengamatanSeluruh isi sesuai, minimal 3 faktaLebih dari 3 fakta, disertai jumlah atau ukuran
Ejaan dan tanda bacaSebagian besar kalimat tanpa huruf kapital dan titikHuruf kapital atau titik dipakai, belum konsistenKonsisten, sedikit salah ejaanSemua tepat

Ketentuan tuntas: aspek struktur dan kesesuaian isi minimal cakap, aspek ejaan minimal layak. Batasnya sengaja dibedakan karena TP ini tentang menulis laporan, bukan tentang ejaan. Siswa yang mahir di ketiga aspek diberi pengayaan, misalnya menulis laporan kedua yang dilengkapi tabel data.

Kaitan KKTP dengan remedial, pengayaan, dan deskripsi rapor

Remedial. Panduan 2025 menegaskan remedial bukan hanya perbaikan nilai, melainkan pendampingan untuk mempelajari kembali kriteria yang belum tercapai. Karena KKTP dipecah per kriteria, guru tahu persis bagian mana yang diulang: Sinta cukup dibimbing pada langkah penyelesaian dan pemeriksaan jawaban.

Pengayaan. Bagi siswa di interval tertinggi, Panduan menyarankan tantangan dengan kompleksitas berbeda, bukan sekadar soal yang lebih sulit, dan siswa dapat dilibatkan sebagai tutor sebaya.

Deskripsi rapor. Ketercapaian ditentukan untuk setiap TP, bukan dari nilai akhir mapel, dan TP yang belum tuntas ditandai bintang (*) supaya orang tua tahu. Deskripsi capaian kompetensi di rapor disusun dari TP dengan capaian tertinggi dan terendah, dalam kalimat positif. Jadi KKTP per TP adalah bahan mentah deskripsi rapor, sedangkan cara mengolah angka per TP menjadi nilai akhir semester adalah bahasan tersendiri dalam artikel kami tentang cara menghitung nilai rapor Kurikulum Merdeka.

Kesalahan umum saat membuat KKTP

  • KKTP disamakan dengan KKM 75. Satu angka untuk semua TP dan semua mapel, hanya berganti nama. Modul ajar menulis "KKTP: 70" tanpa menyebut siswa harus bisa apa, dan saat supervisi pengawas akan menanyakan 70 itu diukur dari apa.
  • Kriteria tidak bisa diamati. "Siswa memahami PLSV" tidak bisa dicentang. Ganti dengan kata kerja yang hasilnya kelihatan di lembar kerja.
  • Remedial disamakan dengan tes ulang. Soal yang sama diberikan dua kali tanpa pendampingan; ini bertentangan dengan arahan Panduan tentang tujuan remedial.
  • Rubrik disalin tanpa disesuaikan. Deskriptor harus mengikuti bukti yang benar-benar diminta dari siswa, termasuk bila draf rubrik dibuat dengan bantuan AI seperti dibahas di panduan membuat modul ajar dengan AI secara jujur.

Kalau ingin keputusan tuntas per TP langsung tersambung ke rapor

Semua di atas bisa dijalankan dengan kertas dan spreadsheet. Yang melelahkan adalah menjaganya konsisten sampai akhir semester: nilai tersebar di banyak berkas, tanda bintang lupa dipindahkan, dan deskripsi rapor ditulis ulang untuk ratusan siswa. Di e-Rapor SiTuntas, guru mengisi nilai sepanjang semester, lalu deskripsi capaian disusun dari tujuan pembelajaran yang dicentang, sehingga bunyi deskripsi mengikuti keputusan KKTP guru. Wali kelas mengisi kehadiran, kepala sekolah mengesahkan, dan rapor dicetak sebagai PDF ber-QR.

Aplikasi tidak menyusun kriteria untuk Anda dan tidak memutuskan batas tuntas. Kriteria, rubrik, dan interval tetap lahir dari rapat guru; aplikasi hanya memastikan keputusan itu terekam sekali dan tampil konsisten di rapor.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah KKTP harus berupa angka?

Tidak. Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025 menyatakan kriteria ketercapaian bukan berupa angka, melainkan kalimat yang menjelaskan penguasaan kompetensi. Angka boleh dipakai sebagai hasil konversi dari rubrik atau tes untuk keperluan pengolahan nilai sumatif, tetapi kriterianya tetap harus ada lebih dulu.

Bolehkah sekolah tetap memakai angka 75 sebagai batas tuntas semua mapel?

Tidak ada larangan tertulis, tetapi itu tidak sesuai semangat aturan. Permendikbudristek 21/2022 meminta pencapaian dibandingkan dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, dan Panduan 2025 memberi contoh rentang yang boleh berbeda antar mapel. Kalau sekolah memilih satu rentang yang sama, pastikan setiap TP tetap punya kriteria tertulis, bukan hanya angka.

Apakah KKTP harus sama untuk semua mata pelajaran?

Tidak harus. Panduan menyebut rentang nilai bisa sama untuk setiap mata pelajaran atau berbeda, tergantung kesepakatan pendidik di satuan pendidikan. Kriterianya sendiri pasti berbeda karena mengikuti TP tiap mapel.

Bagaimana kalau siswa lolos di sumatif akhir semester tetapi belum tuntas di satu TP?

Ketercapaian ditentukan per tujuan pembelajaran, bukan dari nilai akhir mapel. TP yang belum tuntas tetap ditandai bintang di pengolahan nilai dan dijelaskan di deskripsi rapor sebagai kompetensi yang perlu ditingkatkan, lalu diberi remedial terarah pada kriteria yang belum tercapai. Nilai akhir yang tinggi tidak menghapus catatan itu.

Di mana KKTP ditulis, di modul ajar atau dokumen terpisah?

Di perencanaan pembelajaran, yaitu RPP atau modul ajar, karena Panduan menempatkan penyusunan KKTP pada saat merencanakan asesmen. Sebagian sekolah juga merangkumnya dalam satu dokumen KKTP per mapel untuk supervisi; itu boleh asalkan isinya sama dengan yang ada di modul ajar.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.

WhatsApp

Referensi

  1. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi Tahun 2025 (halaman dokumen di Ruang GTK), BSKAP Kemendikdasmen
  2. Salinan PDF Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi Tahun 2025, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran BSKAP Kemendikdasmen
  3. Permendikbudristek Nomor 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK
  4. Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan (dicabut), JDIH BPK

Bagikan artikel ini

Bagikan ke WhatsApp

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Gratis selamanya, 14 hari pertama semua modul terbuka, tanpa instalasi.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp