e-Rapor

Cara Menghitung Nilai Rapor Kurikulum Merdeka: Rumus, Bobot, dan Contoh

Sampul artikel: Cara Menghitung Nilai Rapor Kurikulum Merdeka: Rumus, Bobot, dan Contoh

Nilai rapor Kurikulum Merdeka dihitung hanya dari asesmen sumatif: sumatif lingkup materi sepanjang semester dan, bila sekolah mengadakannya, sumatif akhir semester. Asesmen formatif seperti kuis dan tugas harian tidak dihitung. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 memberi tiga opsi pengolahan, yaitu rata-rata, pembobotan, dan persentase ketercapaian TP, dan menyerahkan bobotnya kepada kesepakatan sekolah. Berikut ketiganya dengan contoh angka dan rumus Excel.

Apa saja yang dihitung ke nilai rapor, dan apa yang tidak?

Dasar hukumnya Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, berlaku sejak diundangkan 28 April 2022 dan mencabut Permendikbud No. 23 Tahun 2016 serta No. 53 Tahun 2015. Pasal 9 membagi penilaian menjadi dua bentuk: formatif untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, sumatif untuk menilai pencapaian hasil belajar sebagai dasar kenaikan kelas dan kelulusan, dengan membandingkan capaian siswa terhadap kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 terbitan BSKAP (edisi revisi ke-3, Juli 2025) menerjemahkannya tanpa ruang tawar: pendidik tidak menggabungkan hasil asesmen formatif dan sumatif, karena formatif bukan penentu atau pembagi nilai akhir. Di bagian perencanaan, panduan menyebut formatif tidak seharusnya dipakai untuk menentukan nilai rapor, kenaikan kelas, atau kelulusan. Kebiasaan merata-ratakan PR, kuis, dan ulangan menjadi satu angka sudah tidak sesuai panduan.

Yang masuk hitungan adalah sumatif lingkup materi, yaitu asesmen setiap selesai satu atau lebih tujuan pembelajaran (TP). Sumatif akhir semester bersifat pilihan: bila data sumatif lingkup materi sudah cukup, guru tidak perlu mengadakannya.

Jenis asesmenContoh di kelasFungsiMasuk nilai rapor?
Formatif awalTes diagnostik, pertanyaan pemantikMemetakan kesiapan dan kebutuhan belajarTidak
Formatif prosesKuis singkat, exit ticket, latihan, penilaian diriUmpan balik bagi siswa dan guruTidak
Sumatif lingkup materiUlangan, proyek, praktik setiap selesai satu atau lebih TPMengukur ketercapaian TPYa
Sumatif akhir semesterTes tertulis atau portofolio di akhir semesterKonfirmasi capaian, sifatnya pilihanYa, bila diadakan, dengan porsi yang disepakati sekolah

Tiga opsi pengolahan nilai menurut Panduan 2025

Bagian Pengolahan dan Pelaporan Hasil Asesmen di panduan menyebut tiga opsi: pembobotan, persentase, dan rata-rata. Pilihannya bergantung pada sifat materi. Rata-rata dipakai bila TP dalam satu semester bersifat lepas, artinya TP yang satu bukan prasyarat TP berikutnya. Pembobotan atau persentase dipakai bila materinya progresif, TP awal menjadi dasar TP lanjutan (contoh panduan: renang gaya bebas mensyaratkan dasar berenang), sehingga lingkup materi yang lebih sulit wajar diberi bobot lebih besar.

Ambil satu siswa fiktif. Andi, kelas VII, Matematika semester ganjil, punya empat sumatif lingkup materi: bilangan bulat 78, bilangan rasional 64, bentuk aljabar 85, persamaan linear satu variabel 70. Batas ketercapaian per TP yang disepakati sekolahnya 70.

OpsiCara menghitungHitungan untuk AndiNilai rapor
Rata-rataJumlah semua sumatif lingkup materi dibagi banyaknya sumatif(78 + 64 + 85 + 70) : 4 = 74,2574
PembobotanTiap sumatif dikali bobotnya lalu dijumlah; bobot disepakati sekolah, di sini 20%, 20%, 30%, 30%15,6 + 12,8 + 25,5 + 21 = 74,975
Persentase ketercapaianBanyaknya TP yang mencapai kriteria dibagi jumlah TP, dikali 1003 dari 4 TP tercapai (bilangan rasional 64 di bawah 70) = 3 : 4 x 10075

Tiga angka itu berdekatan, tetapi informasinya berbeda: rata-rata paling mudah dijelaskan, pembobotan menghargai materi yang lebih berat, persentase langsung menunjukkan berapa TP yang tuntas. Yang tidak boleh hilang di opsi mana pun adalah tanda pada TP yang belum tuntas. Panduan tegas: ketercapaian ditentukan untuk setiap tujuan pembelajaran, bukan dari hasil akhir pengolahan nilai per mata pelajaran, dan ketidaktuntasan ditandai bintang pada TP tertentu saja agar orang tua dan siswa tahu bagian mana yang belum selesai.

Untuk materi yang benar-benar berantai (TP1 prasyarat TP2, TP2 prasyarat TP3, dan seterusnya), panduan membolehkan guru mengambil angka akhir saja.

Bagaimana kalau sekolah mengadakan sumatif akhir semester?

Bila sekolah tetap menyelenggarakannya, nilai rapor menjadi gabungan beberapa kegiatan sumatif. Panduan tidak menetapkan angka proporsinya; yang ditulis adalah pendidik diberi keleluasaan mengolah data kuantitatif secara rerata maupun proporsional, dan satuan pendidikan berdasarkan kesepakatan pendidik berwenang memutuskan pengolahannya. Proporsi seperti 60:40 atau 50:50 bukan aturan pemerintah, melainkan keputusan sekolah.

Misalkan sekolah Andi menyepakati 60% dari rata-rata sumatif lingkup materi dan 40% dari sumatif akhir semester, dan Andi memperoleh 74 pada sumatif akhir semester. Hitungannya: 0,6 x 74,25 + 0,4 x 74 = 44,55 + 29,6 = 74,15, dibulatkan 74. Bila sekolah memakai opsi pembobotan, 74,25 tinggal diganti 74,9.

Tiga hal yang menjaga kesepakatan ini adil: diputuskan di rapat dewan guru sebelum semester dimulai, ditulis di panduan penilaian sekolah atau bagian asesmen KOSP, dan disampaikan ke siswa serta orang tua di awal semester, karena mereka berhak tahu bagaimana angka rapor terbentuk.

KKTP: penentu remedial, bukan sekadar angka batas

Kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) ditetapkan guru saat merencanakan asesmen, biasanya di modul ajar. Panduan menawarkan empat pendekatan: deskripsi kriteria, rubrik, interval nilai, dan persentase, dan menggarisbawahi bahwa pendidik membuat kriteria ketercapaian, bukan hanya berupa angka. Batas 70 di contoh Andi boleh disepakati, tetapi di baliknya harus ada kriteria tentang kemampuan apa yang dianggap tercapai.

Untuk pendekatan interval, panduan memberi contoh lima rentang: 0 sampai 20 belum mencapai TP, remedial seluruh kriteria; 21 sampai 40 belum mencapai, remedial sebagian besar kriteria; 41 sampai 60 hampir mencapai, remedial pada kriteria yang diperlukan; 61 sampai 80 sudah mencapai; 81 sampai 100 sudah mencapai dan perlu tantangan lebih. Contoh lain di panduan memakai 56 sebagai awal ketercapaian. Angka pastinya keputusan sekolah; fungsinya yang tetap: KKTP menentukan siapa yang remedial dan pada TP mana.

Kembali ke Andi. Nilai rapornya 74, di atas batas sekolah, tetapi sumatif bilangan rasionalnya 64. Andi tetap mendapat remedial pada TP itu, dan TP-nya diberi tanda di lembar pengolahan. Panduan mengingatkan remedial bukan sekadar soal ulang, melainkan pendampingan untuk mempelajari kembali kriteria yang belum tercapai. Sebaliknya, aljabarnya 85 layak diberi tantangan lebih, dan pengayaan bukan berarti soal lebih sulit, melainkan memperluas pemahaman dengan referensi yang lebih kaya.

Kolom capaian kompetensi di rapor bukan tempat kalimat umum seperti "sudah baik, tingkatkan lagi". Panduan meminta guru mengidentifikasi capaian tertinggi dan terendah setiap siswa, lalu menulis deskripsi yang memuat kompetensi yang sudah dicapai dan yang perlu ditingkatkan, dengan kalimat positif dan memotivasi. Ada dua cara: mengambil rumusan TP dari alur tujuan pembelajaran, atau mengambil poin penting dari materi yang sudah diberikan. Cara pertama paling ringan kalau ATP sekolah sudah rapi; langkah menyusunnya ada di panduan menyusun ATP Kurikulum Merdeka.

Pola kalimat yang bisa langsung dipakai:

Menunjukkan penguasaan yang [sangat baik/baik] dalam [rumusan TP dengan nilai tertinggi]. Perlu [pendampingan/penguatan] dalam [rumusan TP dengan nilai terendah].

Untuk Andi, dengan nilai tertinggi di aljabar (85) dan terendah di bilangan rasional (64), deskripsinya menjadi:

Menunjukkan penguasaan yang baik dalam mengenali bentuk aljabar, menyederhanakannya, dan menghitung nilainya melalui substitusi. Perlu pendampingan dalam membandingkan dan mengoperasikan bilangan rasional dalam bentuk pecahan dan desimal.

Bila semua TP tuntas, kalimat kedua memakai TP dengan nilai terendah, dengan kata "perlu penguatan" alih-alih "perlu pendampingan". Yang perlu dihindari: satu deskripsi disalin ke 32 siswa, atau kalimat yang menilai pribadi ("anak yang rajin") padahal kolom ini tentang kompetensi.

Contoh rumus Excel untuk tiga opsi

Tata letaknya: baris 1 untuk pengaturan, B1 sampai E1 berisi bobot tiap lingkup materi (20%, 20%, 30%, 30%) dan H1 berisi batas KKTP (70); baris 2 judul kolom; mulai baris 3 satu baris per siswa, kolom A nama, B sampai E sumatif lingkup materi 1 sampai 4, F sumatif akhir semester. Andi di baris 3: 78, 64, 85, 70, dan 74.

KeperluanRumus (pengaturan Excel Indonesia)Hasil untuk Andi
Rata-rata sumatif lingkup materi=AVERAGE(B3:E3)74,25
Pembobotan sesuai bobot di baris 1=SUMPRODUCT(B3:E3;$B$1:$E$1)74,9
Persentase TP yang mencapai KKTP=COUNTIF(B3:E3;">="&$H$1)/COUNT(B3:E3)*10075
Nilai rapor gabungan 60:40 dengan sumatif akhir semester=ROUND(G3*0,6+F3*0,4;0) (G3 berisi rata-rata atau pembobotan)74
Jumlah TP yang belum tuntas=COUNTIF(B3:E3;"<"&$H$1)1

Beberapa hal yang sering membuat rumus ini tampak salah padahal logikanya benar. Excel pengaturan Indonesia memakai titik koma sebagai pemisah argumen dan koma sebagai desimal; kalau rumus ditolak, ganti titik koma dengan koma dan 0,6 dengan 0.6. Tanda dolar pada $B$1:$E$1 dan $H$1 wajib ada supaya rujukan tidak bergeser saat rumus ditarik ke bawah. Pastikan bobot di baris 1 berjumlah tepat 100%, karena SUMPRODUCT tidak memperingatkan bila tidak. Bulatkan sekali saja di akhir dengan ROUND. Terakhir, pasang Conditional Formatting pada B3:E3 agar sel di bawah $H$1 berubah warna, sehingga TP yang butuh remedial langsung terlihat.

Kesalahan yang sering terjadi saat mengolah nilai rapor

  • Nilai formatif ikut dirata-rata. PR, kuis, dan latihan masuk rekap lalu dibagi rata bersama sumatif. Ini bertentangan langsung dengan panduan. Kalau sebuah tugas dirancang sebagai sumatif untuk satu TP, labeli begitu sejak di modul ajar.
  • Bobot tidak disepakati sekolah. Guru A memakai 70:30, guru B 50:50, guru C rata-rata polos, sehingga angka rapor antar mapel tidak sebanding. Bobot adalah keputusan satuan pendidikan, bukan selera tiap guru.
  • Nilai rapor di atas batas dianggap tuntas semua. Ketercapaian ditentukan per TP. Siswa dengan rapor 74 bisa tetap punya satu TP yang harus diremedial.
  • Sumatif akhir semester jadi penentu tunggal. Satu hari ujian diberi porsi begitu besar sehingga bukti belajar satu semester tidak berarti, padahal panduan menempatkannya sebagai konfirmasi yang sifatnya pilihan.
  • Remedial hanya mengulang soal. Nilai naik, kemampuan tidak. Panduan meminta pendampingan pada kriteria yang belum tercapai.
  • Kehadiran dicampur ke angka mapel. Rapor punya kolom ketidakhadiran sendiri (sakit, izin, tanpa keterangan) yang diisi wali kelas dari rekap absensi; cara menyiapkannya dibahas di panduan rekap absensi siswa di Excel.

Kalau ingin perhitungan ini berjalan otomatis

Semua di atas bisa dikerjakan dengan Excel per guru. Masalah muncul di skala sekolah: 20 guru dengan 20 file, bobot tidak seragam, dan wali kelas menyalin angka dari file ke file. Di e-Rapor SiTuntas, guru mengisi nilai sumatif sepanjang semester per lingkup materi, bukan menumpuknya di pekan terakhir. Deskripsi capaian disusun dari TP yang dicentang guru, sehingga kalimat tertinggi dan terendahnya keluar dari rumusan TP yang sama dengan ATP sekolah. Wali kelas mengisi kehadiran, kepala sekolah mengesahkan, rapor dicetak sebagai PDF ber-QR.

Aplikasi punya batas: ia tidak menetapkan bobot, tidak memutuskan angka KKTP, dan tidak menentukan siapa yang remedial; semua itu tetap keputusan rapat guru, aplikasi hanya menjalankannya secara konsisten untuk semua kelas. Nilai yang salah ketik tetap menghasilkan rapor yang salah, dan pelaporan ke Dapodik tetap mengikuti mekanisme e-Rapor resmi Kemendikdasmen untuk jenjang masing-masing. Yang dihilangkan hanya pekerjaan yang menyita waktu tanpa menambah makna: menyalin, menghitung ulang, dan mengetik deskripsi satu per satu.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah nilai tugas harian dan kuis ikut dihitung ke nilai rapor?

Tidak, selama tugas dan kuis itu dirancang sebagai asesmen formatif. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 menegaskan formatif berfungsi sebagai umpan balik, bukan penentu atau pembagi nilai akhir. Kalau sebuah tugas direncanakan sebagai sumatif untuk satu TP, misalnya proyek yang dinilai dengan rubrik, nilainya masuk sebagai sumatif lingkup materi. Kuncinya ada di rencana asesmen yang ditulis guru di modul ajar.

Apakah sumatif akhir semester wajib diadakan?

Tidak wajib. Panduan menyebut asesmen pada akhir semester bersifat pilihan: bila data sumatif lingkup materi satu semester sudah mencukupi, guru tidak perlu mengadakannya; bila masih butuh konfirmasi, boleh. Banyak sekolah tetap menyelenggarakannya serentak, dan itu sah selama porsinya terhadap nilai rapor disepakati bersama dan tidak menjadi penentu tunggal.

Berapa bobot yang benar antara sumatif lingkup materi dan sumatif akhir semester?

Tidak ada angka yang ditetapkan pemerintah. Panduan memberi keleluasaan kepada pendidik dan satuan pendidikan untuk mengolah nilai secara rerata maupun proporsional, jadi 60:40 atau 50:50 adalah kesepakatan sekolah. Yang keliru adalah bila tiap guru memakai proporsi berbeda tanpa kesepakatan tertulis, atau bila satu hari ujian diberi porsi begitu besar sehingga mengalahkan bukti belajar satu semester.

Apakah KKM masih dipakai di Kurikulum Merdeka?

Istilah KKM berasal dari Permendikbud No. 23 Tahun 2016 yang sudah dicabut oleh Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022. Aturan yang berlaku memakai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP), ditetapkan guru per TP dalam bentuk deskripsi kriteria, rubrik, interval nilai, atau persentase. Sekolah boleh menyepakati angka batas, tetapi angka itu berlaku per TP, bukan satu angka untuk seluruh mata pelajaran seperti KKM dulu.

Bagaimana kalau nilai rapor sudah di atas KKTP tetapi ada satu TP yang belum tuntas?

TP itu tetap perlu remedial. Panduan menegaskan ketercapaian ditentukan untuk setiap tujuan pembelajaran, bukan dari hasil akhir pengolahan nilai per mata pelajaran, dan TP yang belum tuntas ditandai agar orang tua dan siswa tahu bagian mana yang perlu dikejar. Remedialnya berupa pendampingan pada kriteria yang belum tercapai, bukan sekadar mengulang soal. Rapor 74 dengan satu TP bertanda lebih jujur daripada 74 yang seolah tuntas semua.

Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.

WhatsApp

Referensi

  1. Panduan Pembelajaran dan Asesmen PAUD, Dikdas, dan Dikmen edisi revisi 2025, BSKAP Kemendikdasmen (Ruang GTK)
  2. Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK RI
  3. e-Rapor SMA, aplikasi rapor digital terintegrasi Dapodik, Direktorat SMA Kemendikdasmen
  4. Fungsi SUMPRODUCT di Excel, Microsoft Support

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Gratis selamanya, 14 hari pertama semua modul terbuka, tanpa instalasi.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp