Cara Membuat Modul Ajar dengan AI: Panduan Jujur untuk Guru
Sebagian besar guru sudah pernah mencobanya. Buka chatbot AI umum, ketik "buatkan modul ajar IPA kelas VII materi ekosistem", dan dalam satu menit muncul dokumen yang kelihatan lengkap. Rasanya seperti menemukan jalan pintas. Namun dokumen yang kelihatan lengkap belum tentu bisa dipakai mengajar, dan bedanya biasanya baru terasa saat supervisi. Artikel ini membahas cara membuat modul ajar dengan AI secara jujur: kenapa hasil salin tempel sering bermasalah, aturan mana yang berlaku untuk modul ajar sejak 2026, prinsip apa yang membuat AI jadi alat bantu yang aman, dan bagaimana alur kerja yang bertahap menghasilkan draf yang layak disunting.
Kenapa modul ajar salin tempel sering ketahuan
Pengawas dan kepala sekolah yang berpengalaman tidak perlu detektor AI untuk mengenali modul ajar instan. Tanda-tandanya terlihat dari hal-hal teknis:
- Alokasi waktu tidak masuk akal. Chatbot umum tidak tahu jadwal sekolah Anda. Ia sering menulis "2 x 45 menit" untuk jenjang SMP, padahal 1 JP SMP itu 40 menit. Jumlah pertemuannya pun sering tidak cocok dengan alokasi JP yang tercantum di ATP, sehingga begitu disandingkan, angkanya langsung bertabrakan.
- Tujuan pembelajaran tidak nyambung dengan ATP sekolah. Chatbot mengarang TP-nya sendiri. Kalimatnya bagus, tetapi begitu pengawas membuka ATP yang disahkan sekolah, nomor dan rumusannya tidak ada di sana. Modul jadi dokumen yang berdiri sendiri, terputus dari alur yang seharusnya ia layani.
- Kegiatannya tidak realistis untuk kelas Indonesia. Draf instan gemar menyebut laboratorium lengkap, tablet untuk setiap siswa, dan internet stabil. Kelas nyata kita bekerja dengan papan tulis, HP yang dipakai bergantian, kertas HVS, dan LCD kalau kebetulan tidak sedang dipinjam kelas sebelah.
- Istilahnya campur aduk. Masih menulis angka KKM padahal ketuntasan sekarang memakai KKTP, masih menyebut Profil Pelajar Pancasila padahal sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 istilahnya Profil Lulusan, atau mengutip standar proses lama yang sudah dicabut. Bagi pembaca yang paham regulasi, ini seperti tanda tangan yang salah nama.
Semua masalah di atas tidak berasal dari kecerdasan mesinnya. Chatbot umum menulis modul generik karena ia tidak tahu apa-apa tentang sekolah Anda: tidak tahu ATP-nya, tidak tahu jadwalnya, tidak tahu isi gudang medianya. Ia menebak, dan tebakannya diambil dari rata-rata internet.
Aturan yang berlaku untuk modul ajar sejak 2026
Sebelum meminta apa pun dari AI, pastikan kerangka yang Anda minta mengikuti aturan yang masih berlaku. Sejak 5 Januari 2026, standar proses pembelajaran diatur oleh Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026, yang mencabut Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022. Pasal 5 peraturan itu menetapkan bahwa dokumen perencanaan pembelajaran paling sedikit memuat tiga komponen, dan itulah kerangka minimal modul ajar Anda.
| Komponen minimal (Pasal 5) | Maksudnya menurut peraturan | Yang sering keliru pada draf AI |
|---|---|---|
| Tujuan pembelajaran | Kompetensi dan konten pada ruang lingkup materi yang harus dicapai murid, mengacu pada standar kompetensi lulusan dan standar isi, dengan mempertimbangkan karakteristik murid dan sumber daya sekolah (Pasal 6). | TP dikarang sendiri, tidak diambil dari ATP sekolah. |
| Langkah pembelajaran | Tahapan yang dirancang untuk memberi pengalaman belajar dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan (Pasal 3 dan 7), agar murid memahami, mengaplikasi, dan merefleksi (Pasal 10). | Tiga blok itu hanya jadi judul kolom; isinya tetap ceramah lalu latihan soal. |
| Penilaian atau asesmen | Dilakukan pendidik dengan beragam teknik dan instrumen yang sesuai tujuan pembelajaran, mengacu pada standar penilaian (Pasal 8). | Rubrik tidak bisa diamati, ketuntasan masih memakai angka KKM. |
Peraturan ini tidak mewajibkan format tertentu. Sekolah boleh menambah bagian lain seperti identitas, LKPD, pengayaan, atau remedial, tetapi tiga komponen di atas harus ada dan harus saling terhubung. Modul yang identitasnya rapi tetapi asesmennya tidak mengukur tujuan pembelajarannya tetap gagal pada pemeriksaan paling dasar.
Prinsip memakai AI yang tidak menjebak
Memakai AI untuk perencanaan pembelajaran tidak dilarang. Kemendikdasmen melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan sudah menerbitkan Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Guru (2025), dan semangatnya jelas: AI adalah alat bantu yang berpusat pada manusia, sedangkan penanggung jawab isi dokumen tetap gurunya. Panduan itu bahkan memberi daftar periksa ringkas untuk tiap kali memakai chatbot: jangan menulis data pribadi atau rahasia di prompt, pastikan kebenaran setiap informasi keluaran AI, pastikan tidak ada bias, informasi berbahaya, atau pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan untuk teks yang dibaca murid pastikan bahasanya sesuai jenjang. Prinsipnya bisa diringkas menjadi empat hal.
1. AI menyusun draf, guru penulisnya
Perlakukan keluaran AI seperti draf dari mahasiswa PPL: bahan mentah yang harus dibaca kalimat demi kalimat, dicoret, dan ditulis ulang di bagian yang tidak pas. Dokumen yang tidak pernah Anda baca utuh sebaiknya jangan pernah Anda tandatangani.
2. Jangan masukkan data siswa
Nama siswa, NISN, kondisi kesehatan, latar belakang keluarga, semuanya tidak punya urusan dengan layanan AI mana pun. Untuk keperluan diferensiasi, gambaran umum sudah cukup: "sebagian siswa belum lancar operasi bilangan bulat" memberi konteks yang sama tanpa membocorkan siapa-siapa.
3. Beri bahan yang benar, bukan perintah kosong
Kualitas draf ditentukan oleh bahan yang Anda sodorkan. Berikan alokasi JP yang asli, jumlah pertemuan yang asli, dan rumusan TP yang diambil langsung dari ATP sekolah. Kalau ATP sekolah sendiri belum rapi, bereskan itu dulu; panduannya bisa dibaca di artikel cara menyusun ATP. AI yang diberi bahan keliru akan menghasilkan modul yang keliru dengan sangat percaya diri.
4. Periksa sendiri istilah dan dasar aturannya
AI bisa mengarang nomor peraturan dan kode CP dengan gaya yang meyakinkan. Rujukan kurikulum, istilah resmi, dan kerangka dokumen wajib Anda cocokkan sendiri dengan sumber aslinya, bukan dipercaya begitu saja.
Cara membuat modul ajar dengan AI tahap demi tahap
Kesalahan paling umum adalah meminta satu modul utuh dalam satu perintah. Hasilnya panjang, dangkal, dan sulit diperiksa. Pendekatan yang jauh lebih sehat: pecah pekerjaan menjadi tahap-tahap kecil mengikuti kerangka dokumen yang berlaku, lalu periksa setiap tahap sebelum lanjut. Kerangka minimalnya sudah digariskan Pasal 5 Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tadi: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Supaya mudah dikerjakan, banyak sekolah menjabarkannya dalam alur identifikasi, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen.
| Tahap | Yang disusun | Yang wajib dicek guru |
|---|---|---|
| Identitas | Judul modul, kelas, jumlah pertemuan, alokasi waktu | Angka JP dan pertemuan sama dengan jadwal nyata |
| Identifikasi | Kompetensi awal, asesmen awal, dimensi profil lulusan | Soal asesmen awal masuk akal untuk siswa Anda; dimensi profil dipilih 3-4 yang paling relevan |
| Desain | CP, TP, pertanyaan pemantik, model pembelajaran | TP diambil dari ATP sekolah, bukan karangan baru |
| Pengalaman belajar | Kegiatan per pertemuan dalam blok memahami, mengaplikasi, merefleksi | Media benar-benar ada di sekolah; total menit pas dengan alokasi |
| LKPD | Lembar kerja untuk setiap pertemuan | Isinya selaras dengan kegiatan mengaplikasi, bukan soal lepas |
| Asesmen | Formatif, sumatif, rubrik, KKTP, pengayaan dan remedial | Deskriptor rubrik bisa diamati; ketuntasan memakai KKTP, tanpa angka KKM |
Beberapa catatan supaya tiap tahap tidak sekadar formalitas. Pada tahap pengalaman belajar, susun kegiatan per pertemuan dalam tiga blok: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan yang benar-benar tampak di kegiatannya, bukan hanya ditulis di kolom. Minta AI menyebut apa yang dilakukan guru dan apa yang dikerjakan siswa secara terpisah, lengkap dengan metode, media, dan menitnya, lalu coret setiap media yang tidak ada di sekolah Anda.
Pada tahap asesmen, minta rubrik dengan empat tingkat capaian, misalnya baru berkembang, layak, cakap, dan mahir, dengan deskriptor yang bisa diamati di kelas. KKTP dirumuskan per tujuan pembelajaran, bukan sebagai satu angka ketuntasan untuk semua. Draf pengayaan dan remedial juga sebaiknya diminta sekalian, karena dua bagian ini yang paling sering kosong di modul buatan tergesa-gesa.
Contoh perintah untuk tiap tahap
Perbedaan draf generik dan draf yang bisa dipakai hampir selalu terletak pada bahan yang Anda berikan. Bandingkan dua cara meminta di bawah ini.
| Tahap | Perintah kosong (hasil generik) | Perintah berbahan (hasil bisa dipakai) |
|---|---|---|
| Identitas dan alokasi | "Buat modul ajar IPA kelas VII materi ekosistem." | "Mapel IPA kelas VII SMP, 1 JP = 40 menit, materi ekosistem dialokasikan 3 pertemuan x 2 JP. Susun kerangka tiap pertemuan dengan total 80 menit." |
| Tujuan pembelajaran | "Tuliskan tujuan pembelajarannya." | "Gunakan TP berikut apa adanya, jangan diubah: (salin dua TP dari ATP sekolah). Rumuskan indikator ketercapaian untuk masing-masing TP." |
| Langkah pembelajaran | "Buat kegiatan pembelajarannya." | "Untuk pertemuan 1 (80 menit), susun kegiatan dalam blok memahami, mengaplikasi, merefleksi. Media yang tersedia: papan tulis, LCD, halaman sekolah, satu HP per kelompok. Sebutkan aktivitas guru, aktivitas siswa, metode, dan menit tiap langkah." |
| Asesmen | "Buat penilaiannya." | "Buat asesmen formatif untuk TP 1 berupa observasi dengan rubrik empat tingkat yang deskriptornya bisa diamati, lalu KKTP per TP tanpa angka KKM. Tambahkan rencana pengayaan dan remedial." |
Perhatikan bahwa perintah berbahan selalu memuat angka asli (JP, pertemuan, menit), TP yang disalin dari ATP, dan daftar media yang sungguh ada. Itu sebabnya, sebelum membuka AI, siapkan dokumen ATP dan jadwal sekolah yang benar; prompt secanggih apa pun tidak bisa menggantikannya.
Alur bertahap ini lebih lambat daripada satu perintah instan, dan di situ nilainya: kesalahan ketahuan saat masih murah diperbaiki, dan di akhir proses Anda menguasai isi modul Anda sendiri.
Kalau ingin alur ini sudah terpasang jadi satu
Alur di atas bisa Anda jalankan manual dengan chatbot AI umum, asal disiplin. Yang melelahkan adalah menjaganya: menyalin TP dari dokumen ATP ke jendela percakapan, mengecek ulang menit demi menit, dan memindahkan hasil akhirnya ke format dokumen sekolah. Di SiTuntas, alur ini kami rakit menjadi fitur bernama Racik Ajar, wizard bertahap yang mengikuti kerangka tiga komponen tadi. Guru memilih mapel, kelas, dan tujuan pembelajaran langsung dari bank ATP sekolah, bank yang sama dengan yang dipakai e-Jurnal, sehingga nomor acuan CP terisi dari data yang sudah ada.
Tombol "Bantu isi tahap ini" meminta AI menyusun draf bagian demi bagian: kegiatan per pertemuan yang dihitung sesuai alokasi JP dalam blok memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, lalu LKPD, asesmen formatif dan sumatif dengan rubrik empat tingkat, KKTP, pengayaan, remedial, dan refleksi.
Prinsip jujurnya juga dipertahankan: setiap bagian bisa disunting langsung atau diurungkan sebelum modul diunduh sebagai dokumen Word berkop sekolah (versi draf diberi tanda air, versi final tanpa tanda air), dan data pribadi siswa tidak pernah dikirim ke layanan AI karena ada penyaring data pribadi. Soal biaya pun kami terbuka: Racik Ajar memakai Google Gemini dengan kunci API milik sekolah sendiri yang dipasang lewat Pengaturan AI mengikuti panduan di aplikasi, sehingga biaya pemakaian AI, bila ada, mengikuti ketentuan Google untuk kunci itu dan bukan bagian dari langganan SiTuntas. Tanpa kunci API, tombol bantuan AI tidak berjalan, tetapi wizard-nya tetap bisa dipakai sebagai kerangka manual. Hasil akhirnya tetap draf yang menunggu tangan guru, bukan dokumen yang mengaku sudah jadi.
Yang tidak bisa diserahkan ke AI
Apa pun alatnya, ada bagian yang tetap milik guru: pengetahuan tentang kelas yang sebenarnya. AI tidak tahu bahwa jam terakhir hari Jumat butuh kegiatan yang lebih banyak gerak, atau bahwa kelas VII B baru bisa fokus setelah lima menit pertama diisi permainan singkat. Menyunting draf AI dengan pengetahuan semacam itu adalah inti dari perencanaan pembelajaran. Supervisi yang baik menilai apakah gurunya memahami dan menjalankan isi modul, bukan siapa yang mengetiknya. Karena itu modul yang lahir dari proses bertahap lebih kuat daripada modul instan, siapa pun pembuat drafnya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah guru boleh membuat modul ajar dengan bantuan AI?
Boleh. Kemendikdasmen melalui BSKAP sudah menerbitkan Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Guru (2025), dan semangatnya menempatkan AI sebagai alat bantu perencanaan pembelajaran yang berpusat pada manusia. Syaratnya jelas: guru tetap penanggung jawab isi dokumen, jadi setiap kalimat hasil AI wajib dibaca, diverifikasi, dan disesuaikan sebelum dipakai.
Apakah modul ajar wajib mengikuti format tertentu setelah Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026?
Tidak ada format baku yang diwajibkan. Pasal 5 hanya menetapkan isi minimal dokumen perencanaan pembelajaran: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian atau asesmen. Sekolah boleh menambah identitas, LKPD, pengayaan, atau remedial, asalkan tiga komponen itu ada dan saling terhubung.
Kenapa modul ajar dari chatbot AI umum sering terasa generik?
Karena chatbot umum tidak tahu apa-apa tentang sekolah Anda: ATP, alokasi JP, jumlah pertemuan, sampai media yang tersedia di kelas. Tanpa bahan itu, ia menebak dari rata-rata internet. Hasilnya enak dibaca tetapi langsung bertabrakan dengan dokumen sekolah begitu disandingkan saat supervisi.
Data apa yang tidak boleh dimasukkan ke layanan AI?
Semua data pribadi siswa: nama, NISN, kondisi kesehatan, dan latar belakang keluarga. Untuk keperluan diferensiasi, cukup berikan gambaran umum kelas tanpa menyebut siapa pun. Materi kurikulum seperti CP, TP, dan alokasi jam aman dikirim karena bukan data orang.
Apa bedanya menyusun modul per tahap dengan meminta satu modul sekali jadi?
Modul sekali jadi biasanya panjang tetapi dangkal, dan kesalahannya baru ketahuan setelah semuanya selesai. Pendekatan per tahap membuat setiap bagian bisa diperiksa selagi masih murah diperbaiki: identitas dulu, lalu TP dari ATP, kegiatan per pertemuan, LKPD, sampai asesmen. Di akhir proses, guru menguasai isi modulnya sendiri.
Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.
WhatsAppReferensi
- Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, JDIH BPK
- Salinan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 (Pasal 3, 5 sampai 8, dan 10), peraturan.go.id
- Panduan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Guru, BSKAP Kemendikdasmen (2025)
- Siaran Pers Kemendikdasmen, Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025: Profil Pelajar Pancasila menjadi Profil Lulusan dan penguatan kokurikuler
Baca juga
Bagikan artikel ini
Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?
SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Gratis selamanya. 14 hari pertama semua modul terbuka penuh tanpa batasan, setelah itu tetap pakai paket Gratis.
Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin
Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp