Modul Ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial SD/SMP: Struktur dan Contoh
Modul ajar Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) cukup memuat tiga komponen: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen, sesuai Pasal 5 Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026. Mapelnya berstatus pilihan, bukan wajib, dan dibuka bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026 menurut Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025. Berikut CP resminya, struktur modul, dua contoh pertemuan siap salin, dan alat gratis yang realistis.
Apakah Koding dan Kecerdasan Artifisial wajib diajarkan?
Tidak. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum (ditetapkan 11 Juli 2025, diundangkan 15 Juli 2025, berlaku sejak diundangkan) menyisipkan Pasal 32A: mata pelajaran pilihan KKA diselenggarakan "mulai tahun ajaran 2025-2026 secara bertahap". Lampirannya menulis KKA "dapat disediakan oleh Satuan Pendidikan sesuai sumber daya yang dimiliki dan dapat dipilih oleh Peserta Didik sesuai minatnya".
Alokasinya 2 JP per minggu: 72 JP per tahun untuk kelas V, VII, dan VIII, serta 64 JP untuk kelas VI dan IX yang dihitung 32 minggu. Satu JP SD 35 menit dan SMP 40 menit, jadi satu pertemuan mingguan berarti 70 menit di SD dan 80 menit di SMP.
Kepmendikdasmen Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi KKA (ditetapkan 4 September 2025) menegaskan makna "pilihan": tidak mewajibkan seluruh satuan pendidikan menyediakannya. Sekolah boleh mengintegrasikan muatannya ke mapel lain (misalnya etika KA di Pendidikan Pancasila), kokurikuler, atau ekstrakurikuler. Pedoman yang sama membolehkan tiga cara pelaksanaan: berbasis internet, plugged (perangkat digital tanpa internet), dan unplugged (tanpa perangkat). Sekolah tanpa laboratorium tidak otomatis gugur.
Elemen dan capaian pembelajaran KKA yang resmi
CP KKA ditetapkan lewat Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 (16 Juli 2025), yang mencabut Keputusan Nomor 032/H/KR/2024. Mapel ini punya enam elemen: Berpikir Komputasional, Literasi Digital, Algoritma Pemrograman, Analisis Data, Literasi dan Etika KA, serta Pemanfaatan dan Pengembangan KA. Untuk Fase C dan D, CP hanya dirumuskan pada empat elemen; Algoritma Pemrograman dan Analisis Data baru muncul di Fase E. Beban JP tiap elemen tidak harus sama; CP boleh dicapai lewat kasus tematik.
| Elemen | Fase C (kelas V dan VI) | Fase D (kelas VII sampai IX) |
|---|---|---|
| Berpikir Komputasional | Memahami masalah sederhana sehari-hari, memecahkannya secara sistematis, menuliskan instruksi logis dengan kosakata atau simbol. | Menerapkan pengelolaan data dan pemecahan masalah sederhana di masyarakat secara sistematis, menuliskan instruksi. |
| Literasi Digital | Manfaat dan dampak teknologi digital, sistem komputer pradasar, pengamanan informasi pribadi, produksi konten teks dan gambar. | Memproduksi dan mendiseminasi konten audio, video, slide, dan infografis. |
| Literasi dan Etika KA | Konsep KA sederhana, KA untuk kesejahteraan manusia, beda manusia dan komputer dalam penginderaan, beda mesin cerdas dan non-cerdas, etika dasar seperti empati. | Cara KA memaknai data sensor, kualitas data, menjaga data pribadi, KA bisa salah, bias, atau berhalusinasi, menganalisis konten deepfake. |
| Pemanfaatan dan Pengembangan KA | Menyimulasikan cara KA mengenali pola dan mengklasifikasi benda konkret; prediksi KA dipengaruhi input. | Menggunakan perangkat KA sederhana secara kritis, menuliskan input bermakna. |
Ini rumusan akhir fase; guru tetap memecahnya menjadi TP terukur, lihat artikel cara menyusun ATP. Laman kurikulum.kemendikdasmen.go.id memberi petunjuk kasus tematik: di SD murid memahami bahwa "KA tidak 100% benar"; di SMP murid memahami bias, ketergantungan, halusinasi, hak cipta, serta hubungan data dengan KA lewat Teachable Machine.
Struktur modul ajar KKA: tiga komponen minimal
Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses (ditetapkan 2 Januari 2026, diundangkan 5 Januari 2026, mencabut Permendikbudristek Nomor 16 Tahun 2022) tidak mengenal format khusus. Pasal 5 mensyaratkan dokumen perencanaan "paling sedikit memuat" tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan penilaian atau asesmen; Pasal 10 meminta pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Kerangka empat bagian dibahas di artikel RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam); berikut versi rampingnya.
- Identitas (satu baris): mapel, fase, kelas, semester, alokasi JP, dan mode pelaksanaan (unplugged, plugged, atau berbasis internet).
- Tujuan pembelajaran: disalin dari ATP sekolah, disertai nama elemen yang dilayani.
- Langkah pembelajaran: awal, inti (memahami, mengaplikasi, merefleksi), dan penutup, dengan menit yang totalnya persis 70 atau 80.
- Asesmen: teknik, instrumen, dan kriteria; cukup formatif untuk pertemuan biasa.
- Lampiran (opsional): LKPD, kartu, rencana cadangan bila listrik padam.
Dua tambahan khas KKA: catatan data pribadi (apa yang boleh dimasukkan murid ke alat KA) dan alternatif tanpa perangkat untuk kegiatan digital.
Contoh modul ajar KKA satu pertemuan
Keduanya sengaja unplugged agar bisa dipakai sekolah mana pun; nomor TP hanya contoh.
Kelas VII: algoritma sehari-hari (2 JP, 80 menit)
Identitas. KKA, Fase D, kelas VII, 80 menit, mode unplugged, elemen Berpikir Komputasional.
Tujuan pembelajaran. TP 7.1: murid dapat menuliskan instruksi langkah demi langkah (algoritma) untuk kegiatan sehari-hari secara urut, lengkap, dan tidak bermakna ganda, lalu memperbaikinya setelah diuji teman.
Langkah pembelajaran.
- Awal (10 menit). Satu murid memandu guru "memakai jaket" lewat instruksi lisan; guru mematuhinya secara harfiah sampai jaket terbalik. Tanya: mengapa gagal? Sampaikan tujuan.
- Memahami (15 menit). Diskusi ciri instruksi yang baik: urut, lengkap, tidak ambigu. Kenalkan istilah algoritma; bedah algoritma membuat teh manis di papan tulis (dekomposisi).
- Mengaplikasi (35 menit). Berpasangan, tulis algoritma 6 sampai 10 langkah untuk satu kegiatan: meminjam buku di perpustakaan, menyeduh kopi sachet, atau mengisi daftar hadir kelas. Lembar ditukar; pasangan lain menjadi "robot" yang menjalankan persis yang tertulis dan menandai langkah yang membingungkan. Lembar dikembalikan; penulis membuat versi 2.
- Merefleksi (10 menit). Tiga pertanyaan tertulis: langkah mana yang disalahpahami robot? Apa bedanya menulis untuk manusia dan mesin? Di mana lagi ada algoritma di rumah?
- Penutup (10 menit). Kuis cepat: urutkan lima kartu langkah yang diacak. Tugas: tulis algoritma satu kebiasaan pagi.
Asesmen. Formatif, produk berupa algoritma versi 2. Rubrik: mahir bila urut, lengkap, tanpa langkah ambigu, dan perbaikan tepat; cakap bila satu kekurangan; layak bila dua; baru berkembang bila perlu bimbingan penuh. Alat: kertas, kartu langkah, papan tulis.
Kelas V: mengenali KA yang pilih kasih (2 JP, 70 menit)
Identitas. KKA, Fase C, kelas V, 70 menit, mode unplugged, elemen Literasi dan Etika KA serta Pemanfaatan dan Pengembangan KA.
Tujuan pembelajaran. TP 5.3: murid dapat menjelaskan bahwa tebakan KA bergantung pada contoh yang diberikan dan bisa keliru, lalu mengusulkan contoh tambahan agar tebakannya lebih adil. Kata "bias" baru muncul di kompetensi SMP; di SD konsepnya dibungkus sebagai "prediksi KA dipengaruhi input", sesuai bunyi CP Fase C.
Langkah pembelajaran.
- Awal (10 menit). Tanya: siapa pernah melihat video yang "disarankan" HP? Bagaimana HP tahu kesukaan kita? Sampaikan tujuan.
- Memahami (15 menit). Permainan "mesin penebak": guru berperan sebagai mesin. Murid menunjukkan delapan kartu buah berlabel "apel" dan "bukan apel"; semua apel contoh berwarna merah. Tunjukkan apel hijau: mesin menjawab "bukan apel". Diskusi: mesin belajar dari contoh; contoh berat sebelah, tebakan pilih kasih.
- Mengaplikasi (30 menit). Kelompok empat orang menerima 12 kartu hewan yang sengaja timpang: 10 kucing beragam warna dan 2 anjing yang keduanya hitam. Tugas di LKPD: (1) susun kartu sebagai "contoh latihan"; (2) uji dengan empat kartu baru (anjing putih, kucing hitam, anjing hitam, kucing putih), catat tebakan berdasarkan contoh saja; (3) jelaskan mengapa tebakan keliru; (4) usulkan kartu tambahan agar adil.
- Merefleksi (10 menit). Dua pertanyaan: apa jadinya bila KA di puskesmas hanya belajar dari contoh orang dewasa? Kalimat apa yang ingin kamu ingat tentang KA?
- Penutup (5 menit). Simpulan bersama: KA belajar dari contoh; contoh timpang, tebakan keliru; manusia yang memeriksa.
Asesmen. Formatif: LKPD kelompok (bagian 3 dan 4) ditambah satu pertanyaan lisan per murid, "sebutkan satu alasan KA bisa keliru dan satu cara memperbaikinya"; tercapai bila keduanya disebut dengan kata sendiri. Bahan: kartu gambar, amplop, LKPD. Bacaan guru: buku saku "Yuk, Mengenal Kecerdasan Artifisial!" terbitan BSKAP 2026, dengan contoh bias: KA diminta menggambar "pimpinan perusahaan" dan hanya menampilkan laki-laki. Varian plugged bila ada laptop berkamera: ulangi di Teachable Machine dengan foto pulpen dan penghapus yang jumlahnya sengaja timpang.
Alat gratis, syarat perangkat, jadwal, dan guru pengampu
Untuk pertemuan plugged, tiga alat ini gratis; cermati syarat perangkatnya.
| Alat | Cocok untuk | Syarat perangkat | Catatan |
|---|---|---|---|
| Scratch (scratch.mit.edu) | Fase D: instruksi dan koding blok; Fase C: animasi sederhana | Browser di laptop atau Chromebook; editor luring untuk Windows 10, macOS 10.13, ChromeOS, dan Android 6.0 ke atas | Membuat proyek tanpa akun; akun hanya untuk menyimpan daring |
| Code.org (kini bernama CodeAI) | Kurikulum berjenjang SD sampai SMA, termasuk pelajaran unplugged | Browser dan internet; akun guru bila ingin mengelola kelas | Antarmuka sebagian berbahasa Indonesia; materi gratis |
| Teachable Machine (teachablemachine.withgoogle.com) | Fase D: hubungan data dan KA; disebut di laman kurikulum Kemendikdasmen | Browser modern di laptop (disarankan Chrome), webcam atau mikrofon, internet untuk membuka halaman | Tanpa akun. Model dilatih di browser; foto tidak dikirim ke server kecuali proyek sengaja disimpan ke Google Drive |
Sarana minimal versi laman resmi Koding dan KA: laptop atau PC aktif, satu perangkat untuk dua murid setidaknya pada satu rombel, prosesor dual core, RAM minimal 4 GB, daya listrik 2.200 watt untuk PC atau 1.300 watt untuk laptop; SMP, SMA, dan SMK ditambah langganan internet. Sekolah yang belum memenuhinya tetap bisa memulai dari jalur unplugged yang dibuka pedoman implementasi.
Soal jadwal, 2 JP sebaiknya satu blok berurutan karena kegiatan mengaplikasi butuh waktu utuh. Bila laboratorium hanya satu, gilir rombel dan tempatkan pertemuan unplugged pada minggu ketika rombel lain memakai laboratorium. Rombel gabungan lintas kelas paralel, yang bisa terbentuk karena murid memilih sesuai minat, perlu dicatat di KOSP dan jadwal.
Pengampu, menurut laman resmi: di SD guru kelas atau guru informatika; di SMP guru informatika, atau bila tidak ada, guru bersertifikat pelatihan informatika, koding, atau KA; kualifikasi minimal D4/S1. Kepmendikdasmen Nomor 222/O/2025 (13 November 2025) tentang kesesuaian bidang tugas dengan sertifikat pendidik mencantumkan KKA sebagai bidang tugas yang sesuai untuk sertifikat Guru Kelas SD (kode 027) dan, di SMP, antara lain Informatika (225), TIK (110/224), Matematika (094/180/318), dan KKPI (330). Pelatihan didaftarkan lewat kodingka.belajar.id, boleh dibiayai BOS Reguler.
Kesalahan umum: menjadikan KKA kursus coding
- Semua pertemuan di depan komputer dengan silabus kursus swasta. CP Fase C dan D didominasi berpikir komputasional, literasi digital, dan etika KA; koding blok hanya sarana. Tujuan pertama mapel ini menurut Keputusan Kepala BSKAP 046/H/KR/2025 adalah terampil berpikir komputasional, bukan menguasai bahasa pemrograman. Ambil TP dari CP resmi dulu; algoritma yang urut dan tidak ambigu bisa dinilai dari kertas, tanpa satu baris kode.
- Etika dianggap pelengkap. Keputusan yang sama menempatkan etika sebagai fondasi di semua jenjang; modul yang tidak menyentuh data pribadi, bias, atau halusinasi melewatkan separuh CP.
- Murid diminta membuat akun dan mengunggah foto diri. Pilih alat tanpa akun; untuk latihan pengenalan gambar gunakan benda, bukan wajah murid, sejalan dengan CP Fase D tentang data pribadi.
Kalau ingin modul dan bahan KKA tersimpan di satu tempat
Di SiTuntas, modul e-Ajar menjadi pustaka bahan ajar milik sekolah per mapel dan tingkat: LKPD, tautan proyek Scratch, dan aktivitas H5P tersimpan di satu tempat, ditandai TP dari bank ATP, lalu dibagikan ke kelas dengan jadwal mulai dan berakhir. Drafnya bisa dimulai dari Racik Ajar: guru memilih TP KKA dari bank ATP, AI menyusun draf kegiatan, LKPD, asesmen, dan rubrik untuk disunting; lihat artikel cara membuat modul ajar dengan AI.
Beberapa batas perlu diketahui: bank ATP KKA harus diisi dulu dari CP resmi, Racik Ajar memakai kunci API Gemini milik sekolah, dan draf AI untuk mapel sebaru ini wajib diperiksa istilahnya satu per satu. e-Ajar juga bukan LMS: ia menyimpan dan menjadwalkan, tidak menilai LKPD murid.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah sekolah wajib membuka mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial?
Tidak. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 menempatkan KKA sebagai mata pelajaran pilihan: disediakan sesuai sumber daya sekolah, dipilih murid sesuai minat. Kepmendikdasmen Nomor 127/P/2025 menegaskan: tidak mewajibkan seluruh satuan pendidikan menyediakannya.
Bagaimana kalau sekolah tidak punya laboratorium komputer?
Bisa tetap berjalan. Kepmendikdasmen Nomor 127/P/2025 membolehkan tiga cara: berbasis internet, perangkat digital tanpa internet, dan tanpa perangkat digital (unplugged). Laman resmi mencantumkan sarana minimal (satu laptop untuk dua murid pada satu rombel); sekolah yang belum memenuhinya bisa memulai dari kegiatan unplugged.
Siapa yang boleh mengampu KKA di SD dan SMP?
Menurut laman resmi Koding dan KA, di SD guru kelas atau guru informatika; di SMP guru informatika, atau bila tidak ada, guru bersertifikat pelatihan informatika, koding, atau KA. Kepmendikdasmen Nomor 222/O/2025 menyatakan KKA sesuai untuk sertifikat guru kelas SD dan, di SMP, antara lain Informatika, TIK, dan Matematika.
Apakah modul ajar KKA harus memakai format RPM empat bagian?
Tidak ada format yang diwajibkan. Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 Pasal 5 hanya mensyaratkan tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Kerangka empat bagian (identifikasi, desain, pengalaman belajar, asesmen) hanya alat bantu; modul satu halaman yang memuat tiga komponen itu sudah sah.
Bagaimana nilai KKA ditulis di rapor kalau mapelnya pilihan?
Kami belum menemukan aturan khusus rapor KKA di sumber resmi yang dibaca. Karena KKA masuk struktur kurikulum sebagai mata pelajaran, wajar bila nilainya diperlakukan seperti mapel lain: dari asesmen sumatif yang mengacu pada TP, dengan deskripsi capaian per elemen. Sepakati bobot dan deskripsinya di tim kurikulum dan tuangkan dalam KOSP.
Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.
WhatsAppReferensi
- Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum (Pasal 32A dan lampiran struktur kurikulum), JDIH BPK RI
- Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (CP Koding dan Kecerdasan Artifisial), Ruang GTK Kemendikdasmen
- Kepmendikdasmen Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah, Kemendikdasmen
- Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada PAUD, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah (teks lengkap), peraturan.go.id
- Soal Sering Ditanya: status mapel, alokasi JP, guru pengampu, dan sarana minimal Koding dan KA, laman resmi Koding dan KA Kemendikdasmen
Baca juga
Bagikan artikel ini
Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?
SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Coba gratis, semua modul terbuka. Paket Gratis tetap Rp0 selamanya.
Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Bisa daftar sendiri. Mau dibantu? Chat kami.
Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp