Cara Membuat LKPD Digital Interaktif untuk Kurikulum Merdeka
LKPD digital interaktif adalah lembar kerja peserta didik yang dikerjakan siswa di HP atau laptop, memberi umpan balik langsung, dan hasilnya terkumpul otomatis ke guru. Cara membuatnya: ambil satu tujuan pembelajaran dari ATP, susun aktivitas memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, tuangkan ke alat gratis seperti Google Formulir atau H5P, bagikan tautannya, lalu nilai dengan rubrik. Berikut langkah-langkahnya beserta contoh IPA SMP.
Apa itu LKPD dan apa bedanya dengan LKS?
LKPD adalah singkatan dari Lembar Kerja Peserta Didik: lembaran berisi petunjuk, langkah kerja, dan tempat siswa menuliskan hasil untuk mencapai satu tujuan pembelajaran. Fungsinya meneruskan peran LKS (Lembar Kerja Siswa); bedanya pada siapa yang menyusun dan untuk apa.
- LKS yang beredar di sekolah umumnya buku terbitan penerbit: ringkasan materi ditambah deretan soal, disusun untuk pasar nasional, bukan untuk kelas Anda.
- LKPD disusun guru sendiri untuk satu atau dua tujuan pembelajaran, sesuai konteks sekolah, dan menjadi bagian dari modul ajar. Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025 dari BSKAP (pada penjelasan mata pelajaran kejuruan SMK) menyebut lembar kerja sebagai bahan ajar pelengkap modul ajar, sejajar dengan buku pelajaran, handout, dan media interaktif.
Kata "digital interaktif" menambah dua syarat. Digital: siswa mengisi di perangkat, bukan di kertas. Interaktif: ada respons dari lembar itu sendiri, jawaban dicek, umpan balik muncul, atau siswa menyeret dan menjodohkan sebelum menjawab. PDF LKS yang dikirim ke grup WhatsApp lalu difoto hasilnya memang digital, tetapi belum interaktif.
Komponen LKPD yang selaras dengan pembelajaran mendalam
Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 (ditetapkan 11 Juli 2025, diundangkan 15 Juli 2025) mengubah Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum; Kemendikdasmen menegaskan tidak ada kurikulum baru, yang dikuatkan adalah pendekatan pembelajaran mendalam. Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025 menjabarkan pengalaman belajar itu dalam tiga tahap: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. LKPD yang baik mengikuti alur yang sama:
- Identitas dan tujuan pembelajaran. Mapel, kelas, pertemuan, dan TP yang disalin persis dari ATP sekolah.
- Petunjuk pengerjaan. Berapa menit, sendiri atau berkelompok, alat yang dibutuhkan, cara mengumpulkan.
- Bagian Memahami. Stimulus singkat (teks, gambar, atau video 2-3 menit) diikuti pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan baru dengan yang sudah dimiliki siswa.
- Bagian Mengaplikasi. Tugas kontekstual yang hasilnya berupa produk atau kinerja: percobaan kecil, pengamatan di rumah, perhitungan kasus nyata. Ini inti LKPD; kalau isinya hanya pilihan ganda, itu baru latihan.
- Bagian Merefleksi. Dua sampai tiga pertanyaan agar siswa mengevaluasi proses dan hasil kerjanya serta menentukan tindak lanjut.
- Rubrik atau kunci penilaian. Kriteria yang bisa diamati untuk bagian yang tidak dinilai mesin, dengan empat tingkat seperti contoh di Panduan: baru berkembang, layak, cakap, mahir.
Catatan dari Panduan yang sering terlewat: pengalaman belajar bukan aspek yang dinilai secara khusus, melainkan jalan menuju tujuan pembelajaran. Yang dinilai dari LKPD adalah ketercapaian TP-nya, bukan "sudah mengisi refleksi atau belum".
Empat alat gratis untuk LKPD digital interaktif
Semua alat di bawah bisa dipakai tanpa membayar, dengan catatan masing-masing.
Cara memilih: untuk rekap nilai cepat, mulai dari Google Formulir; untuk menjawab di tengah video atau menyeret label ke gambar, H5P lebih kaya; Wordwall untuk pemanasan tahap memahami; Canva untuk LKPD yang perlu dicetak juga.
Langkah membuat LKPD interaktif dengan Google Formulir
- Buka satu TP dari ATP dan tulis dulu tiga aktivitasnya di kertas: apa yang dipahami, dikerjakan, dan direfleksikan. Jangan mulai dari alatnya.
- Buat formulir baru, beri judul sesuai identitas LKPD, lalu di menu Setelan aktifkan "Jadikan ini sebagai kuis".
- Buat bagian terpisah: Identitas, A. Memahami, B. Mengaplikasi, C. Merefleksi, supaya siswa tidak melihat semua pertanyaan sekaligus.
- Di bagian identitas cukup minta nama panggilan, nomor absen, dan kelas (dropdown). Kumpulkan email hanya bila sekolah memakai akun Google terkelola.
- Di bagian Memahami, sisipkan video atau gambar, lalu pasang 2-3 pertanyaan pilihan ganda atau jawaban singkat dengan kunci jawaban dan masukan otomatis untuk jawaban salah.
- Di bagian Mengaplikasi, gunakan pertanyaan paragraf untuk laporan singkat. Pertanyaan unggah berkas mewajibkan siswa masuk dengan akun Google; kalau tidak ada akun sekolah, ganti dengan foto yang ditunjukkan ke guru. Beri poin nol dulu, nanti dinilai manual.
- Di bagian Merefleksi, pakai skala linear untuk tingkat keyakinan dan satu pertanyaan paragraf.
- Uji coba di HP sendiri lewat pratinjau, catat lama pengerjaan, lalu salin tautannya. Bila email dikumpulkan, atur perilisan nilai "nanti, setelah peninjauan manual" supaya siswa menerima nilai lengkap.
Kalau memakai H5P
- Pasang H5P di tempat yang sekolah kuasai: plugin di WordPress atau Moodle sekolah, atau aplikasi Lumi Desktop yang gratis dan bisa mengekspor hasilnya sebagai berkas HTML.
- Pilih Course Presentation atau Interactive Book supaya satu LKPD memuat beberapa halaman: stimulus, pertanyaan, tugas, refleksi.
- Isi tahap memahami dengan Interactive Video (pertanyaan muncul di menit tertentu), tahap mengaplikasi dengan Drag and Drop atau Fill in the Blanks, tahap merefleksi dengan Essay.
- Simpan, lalu tanam atau bagikan tautannya; berkas HTML dari Lumi bisa diunggah ke Google Drive atau pustaka bahan ajar sekolah. Skor H5P tidak otomatis sampai ke Anda kecuali platformnya mencatat; minta siswa mencuplik layar skor akhir.
Contoh LKPD singkat IPA SMP yang bisa disalin
LKPD satu pertemuan untuk IPA kelas VII, materi pemisahan campuran, waktu pengerjaan 30 menit dari 2 JP (80 menit). Kurung siku menunjukkan jenis pertanyaan di Google Formulir.
LKPD IPA Kelas VII: Memisahkan Campuran dengan Penyaringan
Tujuan pembelajaran: siswa dapat memilih metode pemisahan campuran yang sesuai berdasarkan sifat komponen penyusunnya (disalin dari ATP sekolah, elemen Zat dan Perubahannya).
Petunjuk: kerjakan berpasangan, waktu 30 menit, siapkan gelas bening, air, satu sendok tanah, dan kain atau tisu. Kirim jawaban sebelum bel pergantian jam.A. Memahami (10 menit)
1. Tonton video 2 menit tentang penjernihan air sederhana. [video]
2. Air keruh terdiri atas air dan butiran tanah. Mana yang ukuran partikelnya lebih besar? [pilihan ganda: air / tanah / sama]
3. Sebutkan satu contoh penyaringan yang pernah kamu lihat di rumah. [jawaban singkat]B. Mengaplikasi (15 menit)
4. Campurkan satu sendok tanah ke setengah gelas air, aduk, lalu tuang melalui kain ke gelas kedua. Foto gelas sebelum dan sesudah. [unggah berkas, atau tunjukkan ke guru]
5. Catat: apa yang tertahan di kain, dan apakah air hasil saringan sudah benar-benar bening? [paragraf]
6. Kalau campurannya air garam, apakah penyaringan masih berhasil? Jelaskan alasannya berdasarkan ukuran partikel. [paragraf]C. Merefleksi (5 menit)
7. Seberapa yakin kamu bisa menentukan metode pemisahan untuk campuran lain? [skala 1-4]
8. Bagian mana yang masih membingungkan, dan apa yang akan kamu lakukan untuk memahaminya? [paragraf]
Rubrik untuk bagian yang tidak dinilai mesin:
Cara membagikan ke kelas dan menilai hasilnya
Perpendek tautan atau buat kode QR, tempel di papan tulis, dan kirim ke grup kelas dengan batas waktu yang tegas. Untuk siswa yang tidak membawa HP atau kuotanya habis, sediakan dua jalan: mengerjakan berpasangan, atau versi cetak yang isinya sama persis (templat cetak Wordwall dan lembar Canva membantu di sini).
Menilai dilakukan dalam dua lapis. Lapis pertama otomatis: bagian memahami langsung terkoreksi, dan butir yang paling banyak salah bisa dibahas di pertemuan berikutnya. Lapis kedua manual dengan rubrik: bagian mengaplikasi dan merefleksi dibaca satu per satu. Untuk kelas 32 siswa, dua jawaban paragraf per siswa memakan sekitar 30-40 menit, jadi buat deskriptor rubrik yang jelas. Hasilnya dicatat sebagai asesmen formatif, bukan langsung menjadi angka rapor.
Privasi data siswa: apa yang wajib diperhatikan?
Setiap kali siswa mengetik nama di layanan daring, sekolah memproses data pribadi anak. UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (ditetapkan 17 Oktober 2022) pada Pasal 25 mengatur bahwa pemrosesan data pribadi anak diselenggarakan secara khusus dan wajib mendapat persetujuan orang tua atau wali. Bagi guru, aturan ini diterjemahkan menjadi kebiasaan sederhana:
- Minta data seminimal mungkin: nama panggilan, nomor absen, kelas. Tidak perlu NISN, alamat, nomor HP, apalagi foto wajah siswa; untuk percobaan, foto bendanya saja.
- Sekolah meminta persetujuan tertulis orang tua sekali di awal tahun ajaran untuk penggunaan platform daring, dengan menyebut layanan yang dipakai.
- Hapus tanggapan formulir dan hasil tugas yang sudah direkap di akhir semester; data yang tidak disimpan tidak bisa bocor.
- Jangan memaksa siswa membuat akun pribadi; kalau alatnya mengharuskan akun, pakai akun yang dibuat dan dikelola sekolah.
Kami tidak bisa memastikan bagaimana tiap penyedia memproses data di servernya; yang bisa Anda kendalikan adalah data apa yang Anda minta. Pembahasan lebih luas ada di artikel keamanan data siswa menurut UU PDP.
Kesalahan umum saat membuat LKPD digital
- Memindahkan LKS ke formulir. Dua puluh soal pilihan ganda di Google Formulir bukan LKPD, itu latihan soal tanpa tahap mengaplikasi.
- Refleksi yang tidak reflektif. Pertanyaan "apa yang kamu pelajari hari ini" hanya menghasilkan jawaban satu kata; tanyakan apa yang membingungkan dan tindak lanjutnya.
- Tidak diuji coba di HP. Tabel lebar dan video yang tidak bisa diputar baru ketahuan saat seluruh kelas bertanya bersamaan.
- Terlalu panjang untuk 2 JP. Satu JP SMP 40 menit; LKPD yang butuh 60 menit menyisakan waktu nol untuk pembahasan.
- Tautan tercecer. LKPD tersebar di riwayat WhatsApp, Drive pribadi, dan akun Wordwall guru yang sudah pindah sekolah, lalu tahun berikutnya dibuat ulang dari nol.
Kalau ingin LKPD tersimpan di satu pustaka sekolah
Masalah terakhir di daftar itu, tautan tercecer, adalah masalah pengelolaan, bukan masalah alat. Di SiTuntas, modul e-Ajar berfungsi sebagai pustaka bahan ajar bersama milik sekolah: tautan Google Formulir, berkas LKPD, dan aktivitas interaktif H5P disimpan di satu tempat, lalu dibagikan ke kelas sesuai jadwal pelajaran, sehingga siswa membukanya dari halaman kelas, bukan dari pesan yang tenggelam. Draf LKPD-nya bisa dimulai dari Racik Ajar, yang menyusun draf modul ajar berikut LKPD, asesmen, dan rubrik dari TP pilihan guru di bank ATP, seperti dibahas di artikel cara membuat modul ajar dengan AI.
e-Ajar menyimpan dan menjadwalkan, tidak menilai jawaban paragraf siswa untuk Anda. Rubrik tetap dibaca guru, dan TP-nya harus rapi dulu di ATP sekolah; kalau belum, mulailah dari artikel cara menyusun ATP.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah LKPD digital wajib dalam Kurikulum Merdeka?
Tidak ada peraturan yang mewajibkan LKPD berbentuk digital. Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2025 menempatkan pemanfaatan digital sebagai komponen opsional dalam perencanaan pembelajaran. LKPD kertas yang memfasilitasi memahami, mengaplikasi, dan merefleksi lebih bernilai daripada formulir daring berisi latihan soal.
Bagaimana kalau sebagian siswa tidak punya HP atau kuota?
Rancang sejak awal supaya LKPD bisa dikerjakan berpasangan dengan satu perangkat, dan selalu siapkan versi cetak dengan isi yang sama. Untuk tahap mengaplikasi berupa percobaan atau pengamatan, perangkat tidak dibutuhkan; yang digital hanya cara mengumpulkannya.
Apakah nilai dari Google Formulir atau Wordwall boleh langsung masuk rapor?
Sebaiknya tidak. Skor otomatis hanya mencakup bagian memahami yang berbentuk pilihan; bagian mengaplikasi dan merefleksi dinilai guru dengan rubrik. Perlakukan hasil LKPD sebagai asesmen formatif untuk memantau ketercapaian TP; nilai rapor diambil dari asesmen sumatif yang dirancang terpisah.
Apakah H5P bisa dipakai tanpa server sekolah?
Bisa. Aplikasi Lumi Desktop yang gratis memungkinkan guru membuat konten H5P secara luring dan mengekspornya sebagai berkas HTML untuk diunggah ke Google Drive atau pustaka bahan ajar sekolah. Kekurangannya, skor siswa tidak tercatat otomatis; minta siswa mengirim tangkapan layar skor.
Apakah setiap pertemuan harus ada LKPD digital baru?
Tidak. Buat LKPD untuk pertemuan yang tahap mengaplikasinya butuh lembar kerja: percobaan, pengamatan, atau pemecahan masalah. Pertemuan yang isinya diskusi atau presentasi cukup dengan catatan biasa. Satu LKPD yang baik bisa dipakai ulang tahun depan dengan penyesuaian kecil.
Bermanfaat? Bagikan ke rekan guru.
WhatsAppReferensi
- Panduan Pembelajaran dan Asesmen edisi revisi 2025, BSKAP Kemendikdasmen
- Siaran pers Meluruskan Miskonsepsi Pembelajaran Mendalam (5 September 2025), Kemendikdasmen
- Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum, JDIH BPK
- UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi, JDIH BPK
- Content Types and Applications, H5P.org
Bagikan artikel ini
Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?
SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri, tanpa instalasi. Gratis selamanya. 14 hari pertama semua modul terbuka penuh tanpa batasan, setelah itu tetap pakai paket Gratis.
Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin
Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp