Aplikasi Pembuat Jadwal Pelajaran Otomatis: Perbandingan Jujur

Tim SiTuntas · 20 Agustus 2026

Ditulis oleh Isep Nursamsi, S.T. · guru Informatika yang membangun dan memakai SiTuntas setiap hari di sekolah negeri.

Kami sendiri membuat aplikasi penyusun jadwal, jadi wajar kalau tulisan ini dicurigai berat sebelah. Justru karena itu kami berusaha jujur: ada alat lain yang bagus, ada situasi di mana Excel cukup, dan ada kondisi di mana aplikasi web lokal memang paling masuk akal.

Kenapa menyusun jadwal itu rumit sejak awal

Sebelum membandingkan merek, ada baiknya paham kenapa pekerjaan ini melelahkan. Jadwal pelajaran bukan sekadar mengisi kotak hari dikali jam. Ia harus menaati banyak aturan sekaligus: satu guru tidak boleh mengajar dua kelas pada jam yang sama, satu kelas hanya menerima satu mata pelajaran per jam, dan beban tiap guru sebaiknya memenuhi ambang jam mengajar yang diatur pemerintah. Beban kerja guru diatur lewat Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025; patokan yang lama dikenal adalah minimal 24 jam tatap muka per minggu bagi guru bersertifikat, dan jadwal yang baik memenuhinya tanpa menumpuk di satu hari.

Satu JP di SMP umumnya 40 menit, dan mata pelajaran berbeban besar sering diberikan dalam blok 2 sampai 3 JP berurutan supaya pembelajaran tidak terpotong. Menjaga blok tetap utuh, menghindari bentrok, sekaligus meratakan beban adalah tiga tujuan yang saling tarik-menarik. Menambah satu guru olahraga yang hanya bisa hadir dua hari, atau ruang laboratorium yang dipakai bergiliran, langsung melipatgandakan kombinasinya.

Lima hal yang menentukan bagusnya alat penjadwalan

Dari pengalaman menemani sekolah, lima hal ini yang paling menentukan:

  • Anti bentrok. Satu guru tidak boleh berada di dua kelas pada jam yang sama, dan inilah sumber revisi jadwal berminggu-minggu.
  • Beban merata. Jangan ada guru yang Senin penuh 8 JP lalu Kamis kosong, atau kelas yang selalu dapat Matematika di jam terakhir.
  • Mudah dipakai. Penyusun jadwal biasanya wakasek kurikulum, bukan staf IT; kalau butuh pelatihan berhari-hari, alat itu akan bergantung pada satu orang.
  • Harga. Sekolah negeri bergerak dengan anggaran BOS yang perlu dipertanggungjawabkan per komponen.
  • Bahasa dan konteks lokal. Istilah JP, rombel, dan struktur Kurikulum Merdeka sebaiknya dikenali alatnya, bukan diterjemahkan akal-akalan.

aSc Timetables: kuat dan teruji, dengan beberapa catatan

aSc Timetables dipakai sekolah di banyak negara selama puluhan tahun, dan mesin penyusunnya memang kuat: constraint yang bisa diatur sangat kaya, dari ruang khusus sampai preferensi jam guru. Untuk sekolah besar dengan kebutuhan rumit, ini alat yang serius.

Catatannya juga nyata. Aplikasinya desktop Windows, jadi jadwal menempel di satu komputer dan satu orang. Lisensinya berbayar dalam kurs asing, jutaan rupiah untuk sekolah. Antarmukanya berbahasa Inggris dengan istilah penjadwalan yang teknis, dan kurva belajarnya cukup terjal. Di banyak sekolah, aSc berakhir dikuasai satu operator, dan begitu beliau pindah tugas, sekolah mulai dari nol lagi.

FET: gratis dan tangguh, tapi teknis

FET adalah perangkat lunak open source yang gratis sepenuhnya, dan kemampuan algoritmanya tidak main-main; banyak sekolah dan kampus di dunia memakainya. Kalau anggaran nol dan ada staf yang telaten, FET layak dicoba.

Tantangannya di pengalaman pakai. Konsepnya kental istilah teknis (activities, constraints dengan bobot persentase), dokumentasinya berbahasa Inggris, dan menyiapkan data awal butuh kesabaran. Salah memahami satu constraint, hasilnya bisa tidak keluar sama sekali. FET seperti mobil manual yang tangguh: sampai tujuan, asal pengemudinya paham mesin.

Excel dan Google Sheets: gratis, familiar, manual

Jujur saja, sebagian besar sekolah di Indonesia masih menyusun jadwal di spreadsheet. Gratis, semua orang bisa membukanya, formatnya bebas. Untuk sekolah kecil yang gurunya sedikit, ini masih masuk akal.

Masalahnya, spreadsheet tidak tahu apa itu bentrok. Dia tidak akan protes saat Bu Ratna tertulis di VII A dan IX C pada jam yang sama. Pola umumnya begini: draf selesai seminggu, lalu dua sampai tiga minggu pertama tahun ajaran habis untuk tambal sulam karena bentrok ditemukan satu per satu di lapangan, dan setiap perbaikan berpotensi menciptakan bentrok baru di tempat lain.

Aplikasi web lokal berbahasa Indonesia

Beberapa tahun terakhir muncul pilihan keempat: aplikasi berbasis web lokal yang dirancang untuk struktur sekolah Indonesia. Karena berjalan di browser, tidak ada instalasi dan tidak terkunci di satu komputer. Karena berbahasa Indonesia dan memakai istilah JP serta rombel, wakasek bisa langsung bekerja tanpa kamus.

SiTuntas ada di kategori ini. Cara kerjanya sederhana: masukkan guru, mata pelajaran, beban JP per tingkat, dan penugasan, lalu generator menyusun draf jadwal dalam satu klik. Yang dijaga generator adalah bagian yang paling melelahkan bila dikerjakan tangan: tidak menempatkan satu guru di dua kelas pada jam yang sama, membagi beban guru merata antar hari, dan menjaga blok JP tetap utuh sebisa mungkin. Hasilnya bisa dicetak per kelas maupun per guru, dan menyusun ulang saat penugasan berubah cukup hitungan menit.

Kami tidak berjanji jadwal jadi sempurna sekali klik. Menyusun jadwal yang sekaligus tanpa jam kosong, beban seragam betul, dan semua blok utuh sering kali tidak bisa dicapai bersamaan karena ketiganya saling bertentangan. Yang realistis: generator mengerjakan bagian berat dan berulang, lalu wakasek merapikan sisanya lewat pengeditan manual, jauh lebih cepat daripada menyusun dari nol. Nilai tambahnya, jadwal ini bisa menjadi dasar untuk absensi dan jurnal mengajar bila dipakai dalam satu sistem.

Perbandingan ringkas

Kalau dipadatkan, posisinya kira-kira begini:

  • Anti bentrok otomatis: aSc, FET, dan aplikasi web lokal mampu mencegahnya; Excel tidak.
  • Pemerataan beban: aSc dan FET lewat constraint, aplikasi web lokal sebagai bawaan, Excel serba manual.
  • Kemudahan: aSc dan FET berkurva belajar terjal, Excel familiar tapi melelahkan saat rombel banyak, aplikasi web lokal paling siap pakai.
  • Harga: FET dan Excel gratis, aSc berbayar dalam kurs asing, aplikasi web lokal berlangganan dengan harga lebih terjangkau untuk ukuran sekolah.
  • Bahasa dan akses: aSc dan FET berbahasa Inggris di desktop, aplikasi web lokal berbahasa Indonesia lewat browser dari perangkat apa pun.

Rekomendasi sesuai ukuran sekolah

Sekolah kecil, sekitar 6 rombel. Kombinasi guru dan kelasnya masih sedikit, jadi Excel masih bisa jalan kalau penyusunnya teliti. Meski begitu, aplikasi web lokal menghemat waktu paling banyak dengan biaya paling kecil, apalagi bila ingin tersambung ke absensi dan jurnal. FET juga pilihan bagus kalau ada staf yang senang mengutak-atik.

Sekolah menengah sampai besar, 12 sampai 30 rombel lebih. Di titik ini menyusun manual bukan lagi pilihan, kombinasi bentroknya ribuan. Pilihannya tinggal alat otomatis: aSc kalau anggaran ada dan operatornya siap belajar serius, FET kalau anggaran nol dan ada tenaga teknis, atau aplikasi web lokal kalau ingin cepat jadi dan bisa dikerjakan wakasek sendiri.

Apa pun alatnya, prinsip penyusunannya sama dan pernah kami urai di artikel Cara Menyusun Jadwal Pelajaran Anti Bentrok. Kalau ingin melihat generator satu klik itu bekerja, penjelasannya ada di halaman Jadwal Pelajaran Otomatis SiTuntas.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah aplikasi penjadwalan bisa menjamin jadwal 100 persen bebas bentrok dan tanpa jam kosong?

Alat penjadwalan otomatis yang baik mencegah satu guru terjadwal di dua kelas pada jam yang sama, bagian tersulit yang layak diserahkan ke mesin. Namun jadwal yang sekaligus bebas bentrok, tanpa jam kosong, beban seragam, dan blok JP utuh tidak selalu bisa dipenuhi bersamaan karena tujuan-tujuan itu saling bertentangan. Yang wajar adalah generator mengerjakan bagian berat, lalu penyusun merapikan sedikit sisanya secara manual.

Berapa beban mengajar per guru yang harus dipenuhi jadwal?

Selama bertahun-tahun patokannya adalah minimal 24 jam tatap muka per minggu bagi guru bersertifikat, dan masih sering dipakai sebagai acuan. Sejak Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025, pemenuhan beban kerja dihitung lebih menyeluruh, termasuk ekuivalensi tugas tambahan seperti wali kelas. Pastikan jam mengajar tiap guru bersertifikat mencapai ambang yang berlaku di sekolah, karena ini menyangkut hak tunjangan mereka.

Apakah alat asing seperti aSc Timetables atau FET cocok untuk sekolah Indonesia?

Secara mesin keduanya sangat mampu dan sudah dipakai sekolah di banyak negara. Tantangannya di antarmuka berbahasa Inggris, istilah penjadwalan yang teknis, dan kurva belajar yang tidak sebentar. Kalau sekolah punya operator yang telaten, keduanya pilihan serius; kalau ingin wakasek langsung bekerja tanpa kamus, aplikasi web berbahasa Indonesia biasanya lebih ramah.

Apakah jadwal dari aplikasi bisa langsung dipakai untuk absensi dan jurnal mengajar?

Tergantung alatnya. aSc, FET, dan Excel menghasilkan jadwal sebagai berkas tersendiri, sehingga absensi dan jurnal tetap dikerjakan terpisah. Pada sistem terpadu seperti SiTuntas, jadwal digital menjadi dasar bagi absensi dan jurnal, jadi kehadiran serta lembar jurnal terbentuk mengikuti jadwal tanpa mengetik ulang. Kalau integrasi ini penting, pertimbangkan sejak memilih alatnya.

Referensi

Ingin melihatnya berjalan di sekolah Anda?

SiTuntas dipakai setiap hari di sekolah negeri. Semua fitur terbuka selama masa coba, tanpa instalasi.

Isi 3 data · Verifikasi singkat · Akun aktif otomatis · Tidak perlu chat admin

Masih punya pertanyaan? Tanya kami via WhatsApp